Sebuah Pelukan

Ayu berdiam diri di bangkunya dengan gelisah. Ia benar-benar takut jika Janu menghampiri Reya dan melampiaskan amarahnya pada gadis itu. Selang beberapa menit akhirnya lelaki yang bernama Jenan itu menghampirinya dengan terburu-buru.

Ia menarik Ayu tanpa bicara apa-apa. Semua orang yang berada di kelas menatap mereka dengan heran. Mereka melesat begitu saja tanpa memperdulikan sekitar. Ayu sedikit kewalahan karena langkah yang Jenan ambil sangat besar karena kakinya panjang, berbeda dengan dirinya yang pendek.

“Bisa pelan-pelan ga sih?” tanya Ayu.

“Ga bisa, Janu bakalan pergi sebentar lagi kalo lo ga muncul,” balasnya sambil menarik Ayu agar lebih cepat sampai.

Apa urusannya sama gue sih anjir?

Keduanya akhirnya sampai di warkang. Bisa Ayu lihat, Teman-temannya Janu tengah duduk mengelilingi Janu. Mereka menahan lelaki yang tengah marah itu dengan kaki mereka yang berada di atas paha Janu.

“Nah tuh datang,” ujar Arjuna ketika melihat Ayu yang ditarik oleh Jenan.

Semuanya menoleh termasuk Janu, semuanya langsung menyingkir dari Janu dan mempersilahkan Ayu untuk mendekati lelaki itu.

“Apa?” tanya Ayu ketika berhadapan dengan Janu yang terduduk. Lelaki itu berdiri dari duduknya dan langsung memeluk gadis itu tanpa aba-aba membuat gadis itu terkejut. “Janu?”

“Hm.”

“Lo ngapain meluk gue!” gadis itu berontak, mencoba untuk melepaskan pelukan lelaki itu. “Lepasin gak?!”

“Gak!” tegasnya.

“Gue tendang anu lo nih ya!” ancam gadis itu.

“Gue lagi marah, lo bisa ga diem dulu? Gue gamau marah.”

“Urusannya ama peluk gue apaan anjing! Lepasin gak?!” Ayu masih mencoba untuk melepaskan pelukan Janu, tapi terlalu sulit karena lelaki itu memeluknya dengan erat.

“Karena pelukkan lo bikin gue tenang.”

Bohong. Padahal jantungnya kini berdetak dengan cepat, bahkan jika diperhatikan baik-baik, telinga lelaki itu memerah akibat perbuatannya sendiri.

“Halah sepik! Bilang aja modus cok,” ejek Arjuna.

“Bilang aja suka makanya peluk-peluk,” sambung Jenan.

Janu berdecak kesal, “bisa diem gak anjing?” omelnya sembari menatap teman-temannya sinis.

“Lepasin Janu…”

“Ay… sebentar aja, bolehkan? Lo mau gue nyamperin Reya?” gadis itu menggeleng. “Yaudah diem, kalau bisa bales pelukan gue.”

“Lo nyuruh gue?” Janu tak menjawab, ia malah menatap Ayu dengan tajam. Membuat gadis itu kikuk karena tatapan lelaki itu.

Dengan perlahan Ayu memilih untuk membalas pelukan lelaki itu, saat kedua tangannya sudah melingkar di pinggang Janu. Ia bisa merasakan kepalanya menjadi berat, sepertinya lelaki itu menaruh dagu pada kepalanya. Ayu menepuk punggung lebar Janu dengan pelan, berharap amarah lelaki itu segera mereda.

“Lo cuci rambut ga sih? Rambut lo bau sampah.”

“JANU BRENGSEK!”