RETAKAN
Jika kalian berpikir Ayu akan diam saja melihat suaminya bercumbu dengan wanita lain. Salah, itu salah besar. Ia kini dengan amarah menggebu-gebu mendekati Janu yang sibuk beradu mulut dengan Reya.
Dengan kencang ia menarik Janu agar menjauh dari gadis itu.
“Lu apa-apaan sih?!” Pria itu menatap Ayu marah.
Ayu menatap Janu tak percaya. Mengapa Janu marah? Bukankah dirinya yang harus marah karena ini?
“Lo yang apa-apaan. Ngapain lo ciuman sama dia? Di tambah di daerah rumah lo sendiri?”
“Ya emang kenapa sih? Janu kan pacar aku,” balas Reya sambil memeluk lengan Janu manja.
“Gue istrinya.”
“Tau kok, Janu bilang sama aku tuh.”
Plak!
Ayu menampar pipi Reya kencang, dadanya naik turun menandakan bahwa amarahnya sudah meluap. Ia menatap Reya dengan penuh kebencian.
“Diem lo jalang!”
Janu melepaskan pelukan Reya, dengan marah ia menarik lengan Ayu kasar. Bahkan pria itu mencengkram tangannya dengan erat. Ia bahkan tak mengindahkan teriakan Reya, Janu benar-benar marah. Ia menarik Ayu kembali ke rumah.
Sepanjang perjalanan Ayu terus meronta-ronta agar Janu melepaskan cengkramannya. Namun hasilnya nihil, pria itu malah semakin mengencangkannya. Bahkan Ayu sudah bercucuran air mata pun, Janu tak peduli.
Ketika sampai di rumah, Janu melempar Ayu dengan kencang. Sehingga gadis itu terbentur dengan meja makan. Dengan cepat Ayu memegang perutnya, beruntung karena punggungnya yang kena bukan perutnya.
“Lo apa-apaan sih nampar Reya kaya gitu hah?! Lo kenapa sih anjing akhir-akhir ini, ikut campur urusan gue mulu?”
“Emang salah gue ikut campur urusan lo? Gue istri lo.”
Janu menjambak rambutnya sendiri dengan kesal. “Istri? Istri lo bilang? Eh! Asal lo tau, kita nikah tuh Karena di jodohin! Lo gausah so kepedean dengan adanya status Istri, lo dengan enaknya campur urusan orang!” geram Janu. “Lagian lo tuh selama ini beban buat gue!” Ayu menatap Janu bengis. “Beban? Beban lo bilang? Terus kenapa ga lo cerain aja gue? Kenapa lo malah pertahanin semuanya!”
“Lo tau? Karena gue masih punya empati, gue kasian liat lo hidup sendirian karena keluarganya hancur berantakan.”