Marahnya Janu.

Ayu melempar ponsel miliknya sembarang arah membuat Zoey yang tengah menonton menoleh menatapnya bingung.

“Mampus…”

Zoey mengerutkan keningnya, “kenapa?”

Ayu menatap Zoey dengan mata yang berkaca-kaca. “Gimana dong Zoey…”

“Apaan sih?!” bentak Zoey.

“Janu marah sama gue…gue kudu gimana.” Gadis itu bergerak gelisah di tempatnya.

“Marah gimana?” tanya Zoey bingung.

“Gue ga boleh pulang malem sama dia Zoey,” ujarnya cemberut.

Zoey menggaruk tengkuknya canggung. Ia kini mengerti mengapa sahabatnya kini terlihat gelisah dan takut secara bersamaan.

“Y-ya lagian lu tidur kaya kebo anjir! Gue udah bangunin biar pulang bareng Oji tadi tuh.”

Keduanya terdiam saat mendengar suara klakson dari luar. Sudah pasti itu Janu yang akan menjemput kekasihnya.

“Sana buruan keluar lu!” usir Zoey, gadis itu bahkan menendang kaki Ayu pelan.

“Temenin gue dong!” pinta Ayu sambil memegang lengan Zoey.

“Ogah anjing gue takut ama laki lu kalo ngambek!”

Ayu menatap Zoey kesal, mengapa gadis itu selalu tidak mau membantunya jika berurusan dengan Janu. Mau tak mau Ayu bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk rok dressnya pelan. Ia menatap Zoey dengan tatapan memohon agar gadis itu mau menemaninya.

“Jangan natap gue kaya gitu! Buruan sana keluar lo!” ujar Zoey sedikit panik.

Bibir gadis itu semakin ditekuk saat Zoey kembali menolak untuk menemaninya. Ayu mengambil ponsel yang ia lempar lalu berjalan keluar dari rumah Zoey.

Ayu bisa melihat Janu yang berdiri di luar mobil sambil menatapnya dengan datar. Gadis itu tak berani menatap lelaki ber-hoodie hitam itu, ia terus menunduk sambil berjalan ke arah Janu.

Janu tak banyak bicara setelah Ayu dekat dengannya, ia langsung masuk kedalam mobil. Ayu menutup matanya sebentar saat menyadari bahwa kekasihnya benar-benar marah padanya. Gadis itu langsung mengikuti Janu masuk kedalam mobil, Ayu segera memakai seatbelt setelah di dalam mobil.

Tanpa bicara Janu melajukan mobilnya mengantarkan kekasihnya yang bermain tak tahu waktu.

Sepanjang perjalanan keduanya sama-sama terdiam, bahkan tak ada suara radio ataupun musik. Suasana saat ini benar-benar sepi, Janu yang sedari awal memang tak mau berbicara pada Ayu membuat gadis itu segan untuk bertanya.

“Tau ga sekarang jam berapa?” Akhirnya lelaki itu memutuskan keheningan diantara keduanya walau nada bicaranya sangat ketus.

“J-jam setengah sebelas,” ujar Ayu takut.

Janu melirik Ayu sekilas lalu kembali menatap ke depan, tangannya mencengkram setir mobil dengan kuat menahan amarah.

“Maaf…” cicit gadis itu.

“Minta maaf sama Bunda.”

Ayu menundukkan kepalanya sembari memainkan tangannya. “Iya nanti minta maaf ke Bunda,” lirihnya.

Mobil Janu akhirnya memasuki pekarangan rumah Ayu, lelaki itu langsung mematikan mesin mobil. Ia menatap kekasihnya dengan datar.

“Maafin aku…” ujar Ayu tanpa menoleh.

“Lo minta maaf ke siapa? Mata lo kemana liatnya?” seru Janu.

Dengan takut Ayu menatap ke arah Janu, melihat lelaki itu yang kini menatapnya dengan tajam.

“Maaf,” cicit Ayu dengan Mata berkaca-kaca saat bertatapan dengan Janu.

“Gausah nangis, kesalahan sendiri. Gausah mau jadi berperan seolah-olah lo itu korban disini,” cibir Janu.

Ayu segera menatap ke atas dengan bibir cemberut, menahan agar air matanya tidak keluar.

“Lo kenapa suka kebiasaan kalo kemana-mana ga bilang Bunda? Jangan mentang-mentang lo udah izin sama gue terus seenaknya ga ngasih tau Bunda! Mau gimana juga dia ibu lo! Bunda khawatir sama lo, anak gadis mau jam sepuluh tapi belum pulang.” Ayu kembali menunduk saat Janu mulai mengeluarkan amarahnya. “Lo janji ga akan pulang malam, tapi ini apa? Lo ga nepatin janji!” Bentak Janu.

“Maaf…maafin aku,” gumam Ayu sembari menahan tangis. Ayu menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara tangisannya, gadis itu menangis tanpa suara tepat saat janu membentaknya. Janu yang melihat itu hanya mendengus sebal.

“Udahlah, sana turun.” ujar Janu datar.

Ayu sudah tidak tahan, gadis itu langsung menangis sejadi-jadinya mengeluarkan rasa sesak di dada.

“Aku minta maaf, maaf karena ga nepatin janji sama kamu, please jangan kayak gini aku takut,” ujar Ayu yang masih menangis membiarkan air mata melewati pipinya.

“Aku kaya gini khawatir, coba kalo kamu ga izin terus Bunda nanya kamu dimana? Aku bakalan gila tau ga kalo semisalnya aku juga gatau kamu dimana,” tutur Janu dengan lembut. Ia menghapus air mata Ayu dengan jempolnya.

“Jangan di ulangi lagi ya? Hm?”

Ayu mengangguk sembari memegang lengan Janu yang ada di pipinya. Janu tersenyum tipis lalu mengusap kepala kekasihnya dengan pelan.

“Udah sana turun masuk rumah, terus abis itu tidur,” perintah Janu.

“Mau peluk,” rengek Ayu.

“Gak ada peluk-peluk! Aku masih marah!”

“Ihh…kenapa!”

“Turun sana lo bocil gue mau pulang.”

“KAMU NYBELIN!” pekik Ayu sambil turun dari mobil.

Janu hanya terkekeh pelan melihat Ayu yang langsung turun lalu membanting pintu mobil. Janu benar-benar langsung membawa mobilnya pergi dari pekarangan rumah Ayu membuat gadis itu cemburut. Akhir-akhir ini jika Janu marah, ia akan langsung pergi dari sisi gadis itu tak seperti dulu yang pasti selalu ingin sebuah pelukkan jika dirinya tengah marah.

“Kamu berubah Janu...”