Ketahuan
Janu menghela nafasnya begitu melihat teman-temannya yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Mereka membawa begitu banyak makanan, persiapan untuk bermain game playstation yang ada di apartemen Janu. Lelaki yang terganggu tidurnya itu menghampiri Juna yang sibuk ngemil lalu duduk di sampingnya.
“Mau main apaan nih?” tanya Agam yang tengah serius melihat layar televisi.
“Fifa lah, apalagi?” balas Reynan.
Agam mengangguk, ia langsung memilih game yang Reynan maksud. Sebelum bermain mereka melakukan hompimpa terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang akan main lebih dulu lalu memilih lawan mereka sendiri. Mereka membagi menjadi tiga babak untuk bermain permainan sepak bola tersebut. Hasilnya, yang pertama bermain adalah Reynan melawan Yogi, yang kedua Janu melawan Juna dan terakhir Jenan melawan Agam.
Para remaja laki-laki itu mulai bersemangat ketika pertandingan babak pertama dimulai. Reynan terlihat santai memainkan stik miliknya, sedangkan Yogi sedikit kesulitan karena ia sudah lama tidak bermain konsol game ini. Babak pertama dimenangkan oleh Reynan si ketua futsal SMA GARUDA yang tentu saja bermain bola itu hal yang mudah baginya. Jenan menyoraki Reynan dan terus mengacungkan jempolnya karena permainan lelaki itu sangat keren.
Kini saatnya Janu yang bermain bersama Juna, teman-temannya tak sabar ingin melihat bagaimana permainan dari Duo J ini. Janu yang tak mau kalah di pasangkan dengan Juna yang pandai bermain game, mereka penasaran siapa yang akan menang.
“Nah kita lihat, siapa yang menang,” ujar Jenan penasaran.
“Ya udah pasti gue, si janu mah cupu,” ucap Juna percaya diri.
Janu tersenyum miring, “ga usah pede dulu, yang menang pasti gue.”
Saat permainan dimulai, keduanya menjadi sangat fokus. Mereka —Janu dan Juna— bertekad untuk menang dan tidak ada yang mau mengalah.
“Anjing! Lo jangan curang dong!” teriak Janu saat Juna mencoba menjatuhkan pemainnya.
“Mana ada curang, buktinya wasitnya diem,” balas Juna santai.
“Tuhkan anjing! lu kenapa sleding gue mulu sat!”
“Ya gue mau ngambil bola lah tolol!”
“Sit atuh sit! Lo jangan pilih kasih dong anjing, wasit goblog,” gerutu Janu.
Jenan dan yang lainnya hanya tertawa mendengar makian kedua lelaki itu. Hal yang sudah tidak aneh lagi jika mereka tengah bermain. Duo J itu pasti akan selalu bertengkar jika menjadi lawan.
Di sisi lain, seorang gadis cantik yang tengah tertidur pulas, terbangun ketika mendengar suara berisik yang ditimbulkan dari luar kamarnya. Dengan setengah sadar ia bangun dari tidurnya dan melihat keluar, memeriksa apa yang tengah terjadi di luar. Ayu membuka pintu kamarnya tanpa tahu keberadaan teman-temannya Janu, ketika gadis itu membuka pintu, semua mata yang ada langsung menoleh pada gadis itu.
“Apa sih nu…pagi-pagi udah berisik,” ujar Ayu dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Janu menepuk jidatnya kencang ketika ia lupa akan hal ini, bagaimana bisa ia lupa bahwa kini dirinya sudah tidak tinggal sendirian. Janu merutuki dirinya sendiri karena dengan mudahnya memberikan kode sandi apartemennya kepada Juna. Ia melirik teman-temannya yang kini menatap gadis itu dengan mulut menganga, Janu berdecak ketika sadar bahwa baju yang gadis itu gunakan sedikit tersingkap, dengan cepat ia berdiri dari duduknya lalu menghampiri Ayu yang masih setengah sadar. Ia memblokir pandangan yang tak seharusnya teman-temannya lihat, Janu mendorong gadis itu masuk dan menutup pintunya dari dalam kamar.
“Lo kenapa bisa bangun sih?” tanya Janu dengan mata melotot.
Gadis itu tak menjawab, ia masih terlalu ngantuk untuk menjawab. Bahkan matanya kini masih menutup dengan sempurna.
Semuanya kembali menjadi heboh saat melihat pemandangan yang terbiasa tak terjadi.
“Woy anjir kok ada cewe?!”
“Janu lu bawa siapa itu bangsat!”
“Wah parah lo nu…”
“NGAPAIN LU MASUK KAMAR, BERDUAAN.”
Ayu yang tadi matanya masih menutup karena mengantuk, kini terbuka lebar ketika mendengar suara teriakan lelaki yang ada di apartemen Janu.
“I-itu siapa?”
Janu menghela nafas kasar, “temen-temen gue.”
Ayu menutup mulutnya tak percaya. “Beneran?” Janu mengangguk. “Terus gimana dong?!” tanya gadis itu cemas.
“Yaudah, kita ketahuan,” ketusnya.