Jangan Marah lagi.

Ayu terkejut saat sang Bunda mengetuk pintunya kencang dan mengatakan bahwa Janu datang kemari. Ia menatap luar yang tengah turun hujan, dengan cepat ia bangkit dari tidurnya dan berlari ke depan.

Dan benar saja, lelaki itu datang ke rumahnya di tengah hujan deras mengguyur kota. Gadis itu melotot tak percaya, ia mendekati Janu dengan marah. Ia memukul bahu lelaki itu dengan kencang.

“Lo gila?! Ngapain ke rumah hujan-hujan gini?!” murka gadis itu.

Janu menunduk menatap ke arah lantai. “Kangen…” lirihnya.

“Lo bisa liat gue di sekolah?!”

“Kamu ga peduli sama aku kalo di sekolah.” Janu masih menundukkan kepalanya, ia memainkan tangannya dengan cemas. Ia tahu tindakannya ini pasti akan mengundang amarah kekasihnya itu, tapi mau bagaimana lagi ia sudah benar-benar merindukan gadis itu.

Ayu mengusap wajahnya dengan kasar. “Masuk sekarang, terus pergi ke air! Mandi! Ngerti gak?!”

Janu mengangguk dengan lemah, ia melewati Ayu tanpa mengangkat kepalanya. Ia terlalu takut melihat mata gadis itu yang sudah pasti melotot besar seolah-olah mata itu akan loncat dari tempatnya.

Ayu menghembuskan nafasnya panjang, ia segera ikut masuk dan menutup pintu dengan keras. Janu yang tadi berjalan perlahan menuju kamar mandi, kini ia berlari terbirit-birit setelah mendengar suara kencang yang datang dari depan pintu.

Setelah lima belas menit, Janu kembali dengan baju yang sudah Ayu siapkan. Pemuda yang memiliki badan besar karena otot itu mendekati kekasihnya yang terlihat seperti singa yang siap untuk menerkam mangsanya kapan saja.

“Duduk,” perintah Ayu. Lelaki itu menurut, ia duduk di sofa yang jaraknya jauh dari gadis itu. “Tuh minum teh hangatnya.” lagi-lagi lelaki itu menurut tanpa banyak bicara.

“Deketan sini,” perintahnya lagi.

“Boleh?”

“Boleh.”

Janu segera menggeser duduknya menjadi dekat dengan Ayu. Lelaki itu melirik Ayu dengan takut, entah mengapa dirinya kini seperti tengah berhadapan dengan Mommy nya ketika marah.

“Lo ngapain kesini?”

“Kangen.”

“Lo liat gue di sekolah setiap hari ya?!”

“Tapi kan lagi marahan…” lirih Janu.

Ah tidak, Ayu ingin tertawa terbahak-bahak melihat Janu seperti ini. Lelaki itu terlihat sangat lucu sekarang, bibirnya yang cemberut ditambah dengan wajahnya yang selalu menatap ke lantai tapi terkadang meliriknya sekilas.

Karena tak kuat dengan tingkah gemas kekasihnya itu, Ayu segera memeluk Janu dari samping. Jika boleh jujur, ia juga sangat merindukan Janu tapi ia hanya ingin tahu saja selama apa Janu bisa bertahan jika ia sedang marah.

Janu tersentak saat gadis itu memeluknya, ia menoleh ke samping melihat kekasihnya yang tengah memeluknya itu.

“Udah ga marah?” tanya Janu. Ayu membalas Janu dengan mengangguk. Lelaki itu segera membalas pelukan Ayu dengan wajah yang siap menangis.

Janu memeluk Ayu dengan sangat erat, air matanya turun dengan perlahan. Ia benar-benar merindukan kekasihnya ini, ia memang tipe orang yang tidak bisa berjauhan dengan orang yang ia sayang, dulu saat ia ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya ia selalu menangis di dalam dekapan kakaknya. Namun seiring berjalannya waktu, ia menjadi remaja yang selalu menyembunyikan perasaannya.

Tapi kini, sikapnya yang dulu perlahan mulai kembali karena Ayu. Janu merasa nyaman untuk menunjukkan segala sesuatu yang ia rasakan saat itu juga. Ia mulai tak segan untuk menunjukkan sisi dirinya yang suka bermanja-manja. Jadi kini, ia tengah menangis di pelukan hangat milik kekasihnya itu, menyalurkan perasaan yang ia pendam selama beberapa hari ini. Perasan rindu, cemas, dan juga takut yang menjadi satu, ia keluarkan semuanya saat ini.

“EH KOK NANGIS LAGI?!” teriak Ayu saat merasakan bahunya yang basah.

“I miss you…i miss you so much,” bisiknya dengan bahu yang gemetar.

“Utututu sayang, sayang aku kangen sama aku? Hm?” tanya Ayu bak seorang ibu kepada anaknya. Janu mengangguk dengan lemas.

Ayu melepas pelukan keduanya, bibirnya cemberut melihat Janu yang menangis. Dengan perasaan bersalah ia mengusap air mata yang turun dari mata boba milik kekasihnya itu.

“Udah nangis nya,” pinta Ayu.

“Kamu…jangan marah lagi…” Janu memegang lengan gadis itu yang berada di wajahnya.

“Kamunya jangan nyebelin.”

Janu menggeleng dengan cepat. “Gak akan, aku ga akan kaya gitu lagi.”

“Bener?”

“Iya…”

Ayu tersenyum senang. “Yaudah sini peluk lagi.”

Dengan segera Janu masuk ke dalam dekapan Ayu. Ia memeluk gadis itu dengan erat, berharap jika ia akan terus bisa melakukan hal ini dengan kekasihnya.

“Jangan marah lagi ya…”