<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>Bubblescript </title>
    <link>https://bubblescript.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Fri, 03 Apr 2026 21:32:16 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Marahnya Janu. </title>
      <link>https://bubblescript.writeas.com/marahnya-janu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Ayu melempar ponsel miliknya sembarang arah membuat Zoey yang tengah menonton menoleh menatapnya bingung. &#xA;&#xA;&#34;Mampus…&#34;&#xA;&#xA;Zoey mengerutkan keningnya, &#34;kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Ayu menatap Zoey dengan mata yang berkaca-kaca. &#34;Gimana dong Zoey…&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apaan sih?!&#34; bentak Zoey. &#xA;&#xA;&#34;Janu marah sama gue…gue kudu gimana.&#34;&#xA;Gadis itu bergerak gelisah di tempatnya. &#xA;&#xA;&#34;Marah gimana?&#34; tanya Zoey bingung. &#xA;&#xA;&#34;Gue ga boleh pulang malem sama dia Zoey,&#34; ujarnya cemberut. &#xA;&#xA;Zoey menggaruk tengkuknya canggung. Ia kini mengerti mengapa sahabatnya kini terlihat gelisah dan takut secara bersamaan. &#xA;&#xA;&#34;Y-ya lagian lu tidur kaya kebo anjir! Gue udah bangunin biar pulang bareng Oji tadi tuh.&#34; &#xA;&#xA;Keduanya terdiam saat mendengar suara klakson dari luar. Sudah pasti itu Janu yang akan menjemput kekasihnya. &#xA;&#xA;&#34;Sana buruan keluar lu!&#34; usir Zoey, gadis itu bahkan menendang kaki Ayu pelan. &#xA;&#xA;&#34;Temenin gue dong!&#34; pinta Ayu sambil memegang lengan Zoey. &#xA;&#xA;&#34;Ogah anjing gue takut ama laki lu kalo ngambek!&#34;&#xA;&#xA;Ayu menatap Zoey kesal, mengapa gadis itu selalu tidak mau membantunya jika berurusan dengan Janu. Mau tak mau Ayu bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk rok dressnya pelan. Ia menatap Zoey dengan tatapan memohon agar gadis itu mau menemaninya. &#xA;&#xA;&#34;Jangan natap gue kaya gitu! Buruan sana keluar lo!&#34; ujar Zoey sedikit panik.&#xA;&#xA;Bibir gadis itu semakin ditekuk saat Zoey kembali menolak untuk menemaninya. Ayu mengambil ponsel yang ia lempar lalu berjalan keluar dari rumah Zoey. &#xA;&#xA;Ayu bisa melihat Janu yang berdiri di luar mobil sambil menatapnya dengan datar. Gadis itu tak berani menatap lelaki ber-hoodie hitam itu, ia terus menunduk sambil berjalan ke arah Janu. &#xA;&#xA;Janu tak banyak bicara setelah Ayu dekat dengannya, ia langsung masuk kedalam mobil. Ayu menutup matanya sebentar saat menyadari bahwa kekasihnya benar-benar marah padanya. Gadis itu langsung mengikuti Janu masuk kedalam mobil, Ayu segera memakai seatbelt setelah di dalam mobil. &#xA;&#xA;Tanpa bicara Janu melajukan mobilnya mengantarkan kekasihnya yang bermain tak tahu waktu. &#xA;&#xA;Sepanjang perjalanan keduanya sama-sama terdiam, bahkan tak ada suara radio ataupun musik. Suasana saat ini benar-benar sepi, Janu yang sedari awal memang tak mau berbicara pada Ayu membuat gadis itu segan untuk bertanya. &#xA;&#xA;&#34;Tau ga sekarang jam berapa?&#34; &#xA;Akhirnya lelaki itu memutuskan keheningan diantara keduanya walau nada bicaranya sangat ketus. &#xA;&#xA;&#34;J-jam setengah sebelas,&#34; ujar Ayu takut.&#xA;&#xA;Janu melirik Ayu sekilas lalu kembali menatap ke depan, tangannya mencengkram setir mobil dengan kuat menahan amarah. &#xA;&#xA;&#34;Maaf…&#34; cicit gadis itu. &#xA;&#xA;&#34;Minta maaf sama Bunda.&#34; &#xA;&#xA;Ayu menundukkan kepalanya sembari memainkan tangannya. &#34;Iya nanti minta maaf ke Bunda,&#34; lirihnya. &#xA;&#xA;Mobil Janu akhirnya memasuki pekarangan rumah Ayu, lelaki itu langsung mematikan mesin mobil. Ia menatap kekasihnya dengan datar. &#xA;&#xA;&#34;Maafin aku…&#34; ujar Ayu tanpa menoleh.&#xA;&#xA;&#34;Lo minta maaf ke siapa? Mata lo kemana liatnya?&#34; seru Janu. &#xA;&#xA;Dengan takut Ayu menatap ke arah Janu, melihat lelaki itu yang kini menatapnya dengan tajam. &#xA;&#xA;&#34;Maaf,&#34; cicit Ayu dengan Mata berkaca-kaca saat bertatapan dengan Janu. &#xA;&#xA;&#34;Gausah nangis, kesalahan sendiri. Gausah mau jadi berperan seolah-olah lo itu korban disini,&#34; cibir Janu.&#xA;&#xA;Ayu segera menatap ke atas dengan bibir cemberut, menahan agar air matanya tidak keluar. &#xA;&#xA;&#34;Lo kenapa suka kebiasaan kalo kemana-mana ga bilang Bunda? Jangan mentang-mentang lo udah izin sama gue terus seenaknya ga ngasih tau Bunda! Mau gimana juga dia ibu lo! Bunda khawatir sama lo, anak gadis mau jam sepuluh tapi belum pulang.&#34; Ayu kembali menunduk saat Janu mulai mengeluarkan amarahnya. &#34;Lo janji ga akan pulang malam, tapi ini apa? Lo ga nepatin janji!&#34; Bentak Janu.&#xA;&#xA;&#34;Maaf…maafin aku,&#34; gumam Ayu sembari menahan tangis. Ayu menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara tangisannya, gadis itu menangis tanpa suara tepat saat janu membentaknya.  Janu yang melihat itu hanya mendengus sebal. &#xA;&#xA;&#34;Udahlah, sana turun.&#34; ujar Janu datar. &#xA;&#xA;Ayu sudah tidak tahan, gadis itu langsung menangis sejadi-jadinya mengeluarkan rasa sesak di dada. &#xA;&#xA;&#34;Aku minta maaf, maaf karena ga nepatin janji sama kamu, please jangan kayak gini aku takut,&#34; ujar Ayu yang masih menangis membiarkan air mata melewati pipinya. &#xA;&#xA;&#34;Aku kaya gini khawatir, coba kalo kamu ga izin terus Bunda nanya kamu dimana? Aku bakalan gila tau ga kalo semisalnya aku juga gatau kamu dimana,&#34; tutur Janu dengan lembut. Ia menghapus air mata Ayu dengan jempolnya. &#xA;&#xA;&#34;Jangan di ulangi lagi ya? Hm?&#34; &#xA;&#xA;Ayu mengangguk sembari memegang lengan Janu yang ada di pipinya. Janu tersenyum tipis lalu mengusap kepala kekasihnya dengan pelan. &#xA;&#xA;&#34;Udah sana turun masuk rumah, terus abis itu tidur,&#34; perintah Janu. &#xA;&#xA;&#34;Mau peluk,&#34; rengek Ayu.&#xA;&#xA;&#34;Gak ada peluk-peluk! Aku masih marah!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ihh…kenapa!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Turun sana lo bocil gue mau pulang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;KAMU NYBELIN!&#34; pekik Ayu sambil turun dari mobil. &#xA;&#xA;Janu hanya terkekeh pelan melihat Ayu yang langsung turun lalu membanting pintu mobil. Janu benar-benar langsung membawa mobilnya pergi dari pekarangan rumah Ayu membuat gadis itu cemburut. Akhir-akhir ini jika Janu marah, ia akan langsung pergi dari sisi gadis itu tak seperti dulu yang pasti selalu ingin sebuah pelukkan jika dirinya tengah marah. &#xA;&#xA;&#34;Kamu berubah Janu...&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Ayu melempar ponsel miliknya sembarang arah membuat Zoey yang tengah menonton menoleh menatapnya bingung.</p>

<p>“Mampus…”</p>

<p>Zoey mengerutkan keningnya, “kenapa?”</p>

<p>Ayu menatap Zoey dengan mata yang berkaca-kaca. “Gimana dong Zoey…”</p>

<p>“Apaan sih?!” bentak Zoey.</p>

<p>“Janu marah sama gue…gue kudu gimana.”
Gadis itu bergerak gelisah di tempatnya.</p>

<p>“Marah gimana?” tanya Zoey bingung.</p>

<p>“Gue ga boleh pulang malem sama dia Zoey,” ujarnya cemberut.</p>

<p>Zoey menggaruk tengkuknya canggung. Ia kini mengerti mengapa sahabatnya kini terlihat gelisah dan takut secara bersamaan.</p>

<p>“Y-ya lagian lu tidur kaya kebo anjir! Gue udah bangunin biar pulang bareng Oji tadi tuh.”</p>

<p>Keduanya terdiam saat mendengar suara klakson dari luar. Sudah pasti itu Janu yang akan menjemput kekasihnya.</p>

<p>“Sana buruan keluar lu!” usir Zoey, gadis itu bahkan menendang kaki Ayu pelan.</p>

<p>“Temenin gue dong!” pinta Ayu sambil memegang lengan Zoey.</p>

<p>“Ogah anjing gue takut ama laki lu kalo ngambek!”</p>

<p>Ayu menatap Zoey kesal, mengapa gadis itu selalu tidak mau membantunya jika berurusan dengan Janu. Mau tak mau Ayu bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk rok dressnya pelan. Ia menatap Zoey dengan tatapan memohon agar gadis itu mau menemaninya.</p>

<p>“Jangan natap gue kaya gitu! Buruan sana keluar lo!” ujar Zoey sedikit panik.</p>

<p>Bibir gadis itu semakin ditekuk saat Zoey kembali menolak untuk menemaninya. Ayu mengambil ponsel yang ia lempar lalu berjalan keluar dari rumah Zoey.</p>

<p>Ayu bisa melihat Janu yang berdiri di luar mobil sambil menatapnya dengan datar. Gadis itu tak berani menatap lelaki ber-<em>hoodie</em> hitam itu, ia terus menunduk sambil berjalan ke arah Janu.</p>

<p>Janu tak banyak bicara setelah Ayu dekat dengannya, ia langsung masuk kedalam mobil. Ayu menutup matanya sebentar saat menyadari bahwa kekasihnya benar-benar marah padanya. Gadis itu langsung mengikuti Janu masuk kedalam mobil, Ayu segera memakai <em>seatbelt</em> setelah di dalam mobil.</p>

<p>Tanpa bicara Janu melajukan mobilnya mengantarkan kekasihnya yang bermain tak tahu waktu.</p>

<p>Sepanjang perjalanan keduanya sama-sama terdiam, bahkan tak ada suara radio ataupun musik. Suasana saat ini benar-benar sepi, Janu yang sedari awal memang tak mau berbicara pada Ayu membuat gadis itu segan untuk bertanya.</p>

<p>“Tau ga sekarang jam berapa?”
Akhirnya lelaki itu memutuskan keheningan diantara keduanya walau nada bicaranya sangat ketus.</p>

<p>“J-jam setengah sebelas,” ujar Ayu takut.</p>

<p>Janu melirik Ayu sekilas lalu kembali menatap ke depan, tangannya mencengkram setir mobil dengan kuat menahan amarah.</p>

<p>“Maaf…” cicit gadis itu.</p>

<p>“Minta maaf sama Bunda.”</p>

<p>Ayu menundukkan kepalanya sembari memainkan tangannya. “Iya nanti minta maaf ke Bunda,” lirihnya.</p>

<p>Mobil Janu akhirnya memasuki pekarangan rumah Ayu, lelaki itu langsung mematikan mesin mobil. Ia menatap kekasihnya dengan datar.</p>

<p>“Maafin aku…” ujar Ayu tanpa menoleh.</p>

<p>“Lo minta maaf ke siapa? Mata lo kemana liatnya?” seru Janu.</p>

<p>Dengan takut Ayu menatap ke arah Janu, melihat lelaki itu yang kini menatapnya dengan tajam.</p>

<p>“Maaf,” cicit Ayu dengan Mata berkaca-kaca saat bertatapan dengan Janu.</p>

<p>“Gausah nangis, kesalahan sendiri. Gausah mau jadi berperan seolah-olah lo itu korban disini,” cibir Janu.</p>

<p>Ayu segera menatap ke atas dengan bibir cemberut, menahan agar air matanya tidak keluar.</p>

<p>“Lo kenapa suka kebiasaan kalo kemana-mana ga bilang Bunda? Jangan mentang-mentang lo udah izin sama gue terus seenaknya ga ngasih tau Bunda! Mau gimana juga dia ibu lo! Bunda khawatir sama lo, anak gadis mau jam sepuluh tapi belum pulang.” Ayu kembali menunduk saat Janu mulai mengeluarkan amarahnya. “Lo janji ga akan pulang malam, tapi ini apa? Lo ga nepatin janji!” Bentak Janu.</p>

<p>“Maaf…maafin aku,” gumam Ayu sembari menahan tangis. Ayu menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara tangisannya, gadis itu menangis tanpa suara tepat saat janu membentaknya.  Janu yang melihat itu hanya mendengus sebal.</p>

<p>“Udahlah, sana turun.” ujar Janu datar.</p>

<p>Ayu sudah tidak tahan, gadis itu langsung menangis sejadi-jadinya mengeluarkan rasa sesak di dada.</p>

<p>“Aku minta maaf, maaf karena ga nepatin janji sama kamu, please jangan kayak gini aku takut,” ujar Ayu yang masih menangis membiarkan air mata melewati pipinya.</p>

<p>“Aku kaya gini khawatir, coba kalo kamu ga izin terus Bunda nanya kamu dimana? Aku bakalan gila tau ga kalo semisalnya aku juga gatau kamu dimana,” tutur Janu dengan lembut. Ia menghapus air mata Ayu dengan jempolnya.</p>

<p>“Jangan di ulangi lagi ya? Hm?”</p>

<p>Ayu mengangguk sembari memegang lengan Janu yang ada di pipinya. Janu tersenyum tipis lalu mengusap kepala kekasihnya dengan pelan.</p>

<p>“Udah sana turun masuk rumah, terus abis itu tidur,” perintah Janu.</p>

<p>“Mau peluk,” rengek Ayu.</p>

<p>“Gak ada peluk-peluk! Aku masih marah!”</p>

<p>“Ihh…kenapa!”</p>

<p>“Turun sana lo bocil gue mau pulang.”</p>

<p>“KAMU NYBELIN!” pekik Ayu sambil turun dari mobil.</p>

<p>Janu hanya terkekeh pelan melihat Ayu yang langsung turun lalu membanting pintu mobil. Janu benar-benar langsung membawa mobilnya pergi dari pekarangan rumah Ayu membuat gadis itu cemburut. Akhir-akhir ini jika Janu marah, ia akan langsung pergi dari sisi gadis itu tak seperti dulu yang pasti selalu ingin sebuah pelukkan jika dirinya tengah marah.</p>

<p>“Kamu berubah Janu...”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bubblescript.writeas.com/marahnya-janu</guid>
      <pubDate>Wed, 19 Jul 2023 16:30:40 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Jangan Marah lagi.</title>
      <link>https://bubblescript.writeas.com/jangan-marah-lagi?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Ayu terkejut saat sang Bunda mengetuk pintunya kencang dan mengatakan bahwa Janu datang kemari. Ia menatap luar yang tengah turun hujan, dengan cepat ia bangkit dari tidurnya dan berlari ke depan. &#xA;&#xA;Dan benar saja, lelaki itu datang ke rumahnya di tengah hujan deras mengguyur kota. Gadis itu melotot tak percaya, ia mendekati Janu dengan marah. Ia memukul bahu lelaki itu dengan kencang. &#xA;&#xA;“Lo gila?! Ngapain ke rumah hujan-hujan gini?!” murka gadis itu. &#xA;&#xA;Janu menunduk menatap ke arah lantai. “Kangen…” lirihnya. &#xA;&#xA;“Lo bisa liat gue di sekolah?!” &#xA;&#xA;“Kamu ga peduli sama aku kalo di sekolah.” Janu masih menundukkan kepalanya, ia memainkan tangannya dengan cemas. Ia tahu tindakannya ini pasti akan mengundang amarah kekasihnya itu, tapi mau bagaimana lagi ia sudah benar-benar merindukan gadis itu. &#xA;&#xA;Ayu mengusap wajahnya dengan kasar. “Masuk sekarang, terus pergi ke air! Mandi! Ngerti gak?!” &#xA;&#xA;Janu mengangguk dengan lemah, ia melewati Ayu tanpa mengangkat kepalanya. Ia terlalu takut melihat mata gadis itu yang sudah pasti melotot besar seolah-olah mata itu akan loncat dari tempatnya. &#xA;&#xA;Ayu menghembuskan nafasnya panjang, ia segera ikut masuk dan menutup pintu dengan keras. Janu yang tadi berjalan perlahan menuju kamar mandi, kini ia berlari terbirit-birit setelah mendengar suara kencang yang datang dari depan pintu. &#xA;&#xA;Setelah lima belas menit, Janu kembali dengan baju yang sudah Ayu siapkan. Pemuda yang memiliki badan besar karena otot itu mendekati kekasihnya yang terlihat seperti singa yang siap untuk menerkam mangsanya kapan saja.&#xA;&#xA;“Duduk,” perintah Ayu. Lelaki itu menurut, ia duduk di sofa yang jaraknya jauh dari gadis itu. &#xA;“Tuh minum teh hangatnya.” lagi-lagi lelaki itu menurut tanpa banyak bicara. &#xA;&#xA;“Deketan sini,” perintahnya lagi. &#xA;&#xA;“Boleh?” &#xA;&#xA;“Boleh.” &#xA;&#xA;Janu segera menggeser duduknya menjadi dekat dengan Ayu. Lelaki itu melirik Ayu dengan takut, entah mengapa dirinya kini seperti tengah berhadapan dengan Mommy nya ketika marah. &#xA;&#xA;“Lo ngapain kesini?” &#xA;&#xA;“Kangen.”&#xA;&#xA;“Lo liat gue di sekolah setiap hari ya?!”&#xA;&#xA;“Tapi kan lagi marahan…” lirih Janu. &#xA;&#xA;Ah tidak, Ayu ingin tertawa terbahak-bahak melihat Janu seperti ini. Lelaki itu terlihat sangat lucu sekarang, bibirnya yang cemberut ditambah dengan wajahnya yang selalu menatap ke lantai tapi terkadang meliriknya sekilas. &#xA;&#xA;Karena tak kuat dengan tingkah gemas kekasihnya itu, Ayu segera memeluk Janu dari samping. Jika boleh jujur, ia juga sangat merindukan Janu tapi ia hanya ingin tahu saja selama apa Janu bisa bertahan jika ia sedang marah. &#xA;&#xA;Janu tersentak saat gadis itu memeluknya, ia menoleh ke samping melihat kekasihnya yang tengah memeluknya itu. &#xA;&#xA;“Udah ga marah?” tanya Janu. Ayu membalas Janu dengan mengangguk. Lelaki itu segera membalas pelukan Ayu dengan wajah yang siap menangis. &#xA;&#xA;Janu memeluk Ayu dengan sangat erat, air matanya turun dengan perlahan. Ia benar-benar merindukan kekasihnya ini, ia memang tipe orang yang tidak bisa berjauhan dengan orang yang ia sayang, dulu saat ia ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya ia selalu menangis di dalam dekapan kakaknya. Namun seiring berjalannya waktu, ia menjadi remaja yang selalu menyembunyikan perasaannya. &#xA;&#xA;Tapi kini, sikapnya yang dulu perlahan mulai kembali karena Ayu. Janu merasa nyaman untuk menunjukkan segala sesuatu yang ia rasakan saat itu juga. Ia mulai tak segan untuk menunjukkan sisi dirinya yang suka bermanja-manja. Jadi kini, ia tengah menangis di pelukan hangat milik kekasihnya itu, menyalurkan perasaan yang ia pendam selama beberapa hari ini. Perasan rindu, cemas, dan juga takut yang menjadi satu, ia keluarkan semuanya saat ini. &#xA;&#xA;“EH KOK NANGIS LAGI?!” teriak Ayu saat merasakan bahunya yang basah. &#xA;&#xA;“I miss you…i miss you so much,” bisiknya dengan bahu yang gemetar. &#xA;&#xA;“Utututu sayang, sayang aku kangen sama aku? Hm?” tanya Ayu bak seorang ibu kepada anaknya. Janu mengangguk dengan lemas.&#xA;&#xA;Ayu melepas pelukan keduanya, bibirnya cemberut melihat Janu yang menangis. Dengan perasaan bersalah ia mengusap air mata yang turun dari mata boba milik kekasihnya itu. &#xA;&#xA;“Udah nangis nya,” pinta Ayu. &#xA;&#xA;“Kamu…jangan marah lagi…” Janu memegang lengan gadis itu yang berada di wajahnya.&#xA;&#xA;“Kamunya jangan nyebelin.” &#xA;&#xA;Janu menggeleng dengan cepat. “Gak akan, aku ga akan kaya gitu lagi.” &#xA;&#xA;“Bener?”  &#xA;&#xA;“Iya…”&#xA;&#xA;Ayu tersenyum senang. “Yaudah sini peluk lagi.”&#xA;&#xA;Dengan segera Janu masuk ke dalam dekapan Ayu. Ia memeluk gadis itu dengan erat, berharap jika ia akan terus bisa melakukan hal ini dengan kekasihnya. &#xA;&#xA;“Jangan marah lagi ya…” &#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Ayu terkejut saat sang Bunda mengetuk pintunya kencang dan mengatakan bahwa Janu datang kemari. Ia menatap luar yang tengah turun hujan, dengan cepat ia bangkit dari tidurnya dan berlari ke depan.</p>

<p>Dan benar saja, lelaki itu datang ke rumahnya di tengah hujan deras mengguyur kota. Gadis itu melotot tak percaya, ia mendekati Janu dengan marah. Ia memukul bahu lelaki itu dengan kencang.</p>

<p>“Lo gila?! Ngapain ke rumah hujan-hujan gini?!” murka gadis itu.</p>

<p>Janu menunduk menatap ke arah lantai. “Kangen…” lirihnya.</p>

<p>“Lo bisa liat gue di sekolah?!”</p>

<p>“Kamu ga peduli sama aku kalo di sekolah.” Janu masih menundukkan kepalanya, ia memainkan tangannya dengan cemas. Ia tahu tindakannya ini pasti akan mengundang amarah kekasihnya itu, tapi mau bagaimana lagi ia sudah benar-benar merindukan gadis itu.</p>

<p>Ayu mengusap wajahnya dengan kasar. “Masuk sekarang, terus pergi ke air! Mandi! Ngerti gak?!”</p>

<p>Janu mengangguk dengan lemah, ia melewati Ayu tanpa mengangkat kepalanya. Ia terlalu takut melihat mata gadis itu yang sudah pasti melotot besar seolah-olah mata itu akan loncat dari tempatnya.</p>

<p>Ayu menghembuskan nafasnya panjang, ia segera ikut masuk dan menutup pintu dengan keras. Janu yang tadi berjalan perlahan menuju kamar mandi, kini ia berlari terbirit-birit setelah mendengar suara kencang yang datang dari depan pintu.</p>

<p>Setelah lima belas menit, Janu kembali dengan baju yang sudah Ayu siapkan. Pemuda yang memiliki badan besar karena otot itu mendekati kekasihnya yang terlihat seperti singa yang siap untuk menerkam mangsanya kapan saja.</p>

<p>“Duduk,” perintah Ayu. Lelaki itu menurut, ia duduk di sofa yang jaraknya jauh dari gadis itu.
“Tuh minum teh hangatnya.” lagi-lagi lelaki itu menurut tanpa banyak bicara.</p>

<p>“Deketan sini,” perintahnya lagi.</p>

<p>“Boleh?”</p>

<p>“Boleh.”</p>

<p>Janu segera menggeser duduknya menjadi dekat dengan Ayu. Lelaki itu melirik Ayu dengan takut, entah mengapa dirinya kini seperti tengah berhadapan dengan Mommy nya ketika marah.</p>

<p>“Lo ngapain kesini?”</p>

<p>“Kangen.”</p>

<p>“Lo liat gue di sekolah setiap hari ya?!”</p>

<p>“Tapi kan lagi marahan…” lirih Janu.</p>

<p>Ah tidak, Ayu ingin tertawa terbahak-bahak melihat Janu seperti ini. Lelaki itu terlihat sangat lucu sekarang, bibirnya yang cemberut ditambah dengan wajahnya yang selalu menatap ke lantai tapi terkadang meliriknya sekilas.</p>

<p>Karena tak kuat dengan tingkah gemas kekasihnya itu, Ayu segera memeluk Janu dari samping. Jika boleh jujur, ia juga sangat merindukan Janu tapi ia hanya ingin tahu saja selama apa Janu bisa bertahan jika ia sedang marah.</p>

<p>Janu tersentak saat gadis itu memeluknya, ia menoleh ke samping melihat kekasihnya yang tengah memeluknya itu.</p>

<p>“Udah ga marah?” tanya Janu. Ayu membalas Janu dengan mengangguk. Lelaki itu segera membalas pelukan Ayu dengan wajah yang siap menangis.</p>

<p>Janu memeluk Ayu dengan sangat erat, air matanya turun dengan perlahan. Ia benar-benar merindukan kekasihnya ini, ia memang tipe orang yang tidak bisa berjauhan dengan orang yang ia sayang, dulu saat ia ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya ia selalu menangis di dalam dekapan kakaknya. Namun seiring berjalannya waktu, ia menjadi remaja yang selalu menyembunyikan perasaannya.</p>

<p>Tapi kini, sikapnya yang dulu perlahan mulai kembali karena Ayu. Janu merasa nyaman untuk menunjukkan segala sesuatu yang ia rasakan saat itu juga. Ia mulai tak segan untuk menunjukkan sisi dirinya yang suka bermanja-manja. Jadi kini, ia tengah menangis di pelukan hangat milik kekasihnya itu, menyalurkan perasaan yang ia pendam selama beberapa hari ini. Perasan rindu, cemas, dan juga takut yang menjadi satu, ia keluarkan semuanya saat ini.</p>

<p>“EH KOK NANGIS LAGI?!” teriak Ayu saat merasakan bahunya yang basah.</p>

<p>“I miss you…i miss you so much,” bisiknya dengan bahu yang gemetar.</p>

<p>“Utututu sayang, sayang aku kangen sama aku? Hm?” tanya Ayu bak seorang ibu kepada anaknya. Janu mengangguk dengan lemas.</p>

<p>Ayu melepas pelukan keduanya, bibirnya cemberut melihat Janu yang menangis. Dengan perasaan bersalah ia mengusap air mata yang turun dari mata boba milik kekasihnya itu.</p>

<p>“Udah nangis nya,” pinta Ayu.</p>

<p>“Kamu…jangan marah lagi…” Janu memegang lengan gadis itu yang berada di wajahnya.</p>

<p>“Kamunya jangan nyebelin.”</p>

<p>Janu menggeleng dengan cepat. “Gak akan, aku ga akan kaya gitu lagi.”</p>

<p>“Bener?”</p>

<p>“Iya…”</p>

<p>Ayu tersenyum senang. “Yaudah sini peluk lagi.”</p>

<p>Dengan segera Janu masuk ke dalam dekapan Ayu. Ia memeluk gadis itu dengan erat, berharap jika ia akan terus bisa melakukan hal ini dengan kekasihnya.</p>

<p>“Jangan marah lagi ya…”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bubblescript.writeas.com/jangan-marah-lagi</guid>
      <pubDate>Sun, 07 May 2023 15:40:23 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ketahuan </title>
      <link>https://bubblescript.writeas.com/ketahuan-tw6z?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Janu menghela nafasnya begitu melihat teman-temannya yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Mereka membawa begitu banyak makanan, persiapan untuk bermain game playstation yang ada di apartemen Janu. Lelaki yang terganggu tidurnya itu menghampiri Juna yang sibuk ngemil lalu duduk di sampingnya. &#xA;&#xA;“Mau main apaan nih?” tanya Agam yang tengah serius melihat layar televisi. &#xA;&#xA;“Fifa lah, apalagi?” balas Reynan. &#xA;&#xA;Agam mengangguk, ia langsung memilih game yang Reynan maksud. Sebelum bermain mereka melakukan hompimpa terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang akan main lebih dulu lalu memilih lawan mereka sendiri. Mereka membagi menjadi tiga babak untuk bermain permainan sepak bola tersebut. Hasilnya, yang pertama bermain adalah Reynan melawan Yogi, yang kedua Janu melawan Juna dan terakhir Jenan melawan Agam. &#xA;&#xA;Para remaja laki-laki itu mulai bersemangat ketika pertandingan babak pertama dimulai. Reynan terlihat santai memainkan stik miliknya, sedangkan Yogi sedikit kesulitan karena ia sudah lama tidak bermain konsol game ini. Babak pertama dimenangkan oleh Reynan si ketua futsal SMA GARUDA yang tentu saja bermain bola itu hal yang mudah baginya. Jenan menyoraki Reynan dan terus mengacungkan jempolnya karena permainan lelaki itu sangat keren. &#xA;&#xA;Kini saatnya Janu yang bermain bersama Juna, teman-temannya tak sabar ingin melihat bagaimana permainan dari Duo J ini. Janu yang tak mau kalah di pasangkan dengan Juna yang pandai bermain game, mereka penasaran siapa yang akan menang. &#xA;&#xA;“Nah kita lihat, siapa yang menang,” ujar Jenan penasaran.&#xA;&#xA;“Ya udah pasti gue, si janu mah cupu,” ucap Juna percaya diri. &#xA;&#xA;Janu tersenyum miring, “ga usah pede dulu, yang menang pasti gue.”&#xA;&#xA;Saat permainan dimulai, keduanya menjadi sangat fokus. Mereka —Janu dan Juna— bertekad untuk menang dan tidak ada yang mau mengalah. &#xA;&#xA;“Anjing! Lo jangan curang dong!” teriak Janu saat Juna mencoba menjatuhkan pemainnya. &#xA;&#xA;“Mana ada curang, buktinya wasitnya diem,” balas Juna santai. &#xA;&#xA;“Tuhkan anjing! lu kenapa sleding gue mulu sat!” &#xA;&#xA;“Ya gue mau ngambil bola lah tolol!” &#xA;&#xA;“Sit atuh sit! Lo jangan pilih kasih dong anjing, wasit goblog,” gerutu Janu. &#xA;&#xA;Jenan dan yang lainnya hanya tertawa mendengar makian kedua lelaki itu. Hal yang sudah tidak aneh lagi jika mereka tengah bermain. Duo J itu pasti akan selalu bertengkar jika menjadi lawan. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Di sisi lain, seorang gadis cantik yang tengah tertidur pulas, terbangun ketika mendengar suara berisik yang ditimbulkan dari luar kamarnya. Dengan setengah sadar ia bangun dari tidurnya dan melihat keluar, memeriksa apa yang tengah terjadi di luar. Ayu membuka pintu kamarnya tanpa tahu keberadaan teman-temannya Janu, ketika gadis itu membuka pintu, semua mata yang ada langsung menoleh pada gadis itu.&#xA;&#xA;“Apa sih nu…pagi-pagi udah berisik,” ujar Ayu dengan suara serak khas orang bangun tidur. &#xA;&#xA;Janu menepuk jidatnya kencang ketika ia lupa akan hal ini, bagaimana bisa ia lupa bahwa kini dirinya sudah tidak tinggal sendirian. Janu merutuki dirinya sendiri karena dengan mudahnya memberikan kode sandi apartemennya kepada Juna. Ia melirik teman-temannya yang kini menatap gadis itu dengan mulut menganga, Janu berdecak ketika sadar bahwa baju yang gadis itu gunakan sedikit tersingkap, dengan cepat ia berdiri dari duduknya lalu menghampiri Ayu yang masih setengah sadar. Ia memblokir pandangan yang tak seharusnya teman-temannya lihat, Janu mendorong gadis itu masuk dan menutup pintunya dari dalam kamar. &#xA;&#xA;“Lo kenapa bisa bangun sih?” tanya Janu dengan mata melotot. &#xA;&#xA;Gadis itu tak menjawab, ia masih terlalu ngantuk untuk menjawab. Bahkan matanya kini masih menutup dengan sempurna.&#xA;&#xA;Semuanya kembali menjadi heboh saat melihat pemandangan yang terbiasa tak terjadi. &#xA;&#xA;“Woy anjir kok ada cewe?!” &#xA;&#xA;“Janu lu bawa siapa itu bangsat!” &#xA;&#xA;“Wah parah lo nu…” &#xA;&#xA;&#34;NGAPAIN LU MASUK KAMAR, BERDUAAN.&#34;&#xA;&#xA;Ayu yang tadi matanya masih menutup karena mengantuk, kini terbuka lebar ketika mendengar suara teriakan lelaki yang ada di apartemen Janu. &#xA;&#xA;“I-itu siapa?” &#xA;&#xA;Janu menghela nafas kasar, “temen-temen gue.”&#xA;&#xA;Ayu menutup mulutnya tak percaya. “Beneran?” Janu mengangguk. “Terus gimana dong?!” tanya gadis itu cemas.&#xA;&#xA;“Yaudah, kita ketahuan,” ketusnya.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Janu menghela nafasnya begitu melihat teman-temannya yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Mereka membawa begitu banyak makanan, persiapan untuk bermain game <em>playstation</em> yang ada di apartemen Janu. Lelaki yang terganggu tidurnya itu menghampiri Juna yang sibuk ngemil lalu duduk di sampingnya.</p>

<p>“Mau main apaan nih?” tanya Agam yang tengah serius melihat layar televisi.</p>

<p>“<em>Fifa</em> lah, apalagi?” balas Reynan.</p>

<p>Agam mengangguk, ia langsung memilih game yang Reynan maksud. Sebelum bermain mereka melakukan hompimpa terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang akan main lebih dulu lalu memilih lawan mereka sendiri. Mereka membagi menjadi tiga babak untuk bermain permainan sepak bola tersebut. Hasilnya, yang pertama bermain adalah Reynan melawan Yogi, yang kedua Janu melawan Juna dan terakhir Jenan melawan Agam.</p>

<p>Para remaja laki-laki itu mulai bersemangat ketika pertandingan babak pertama dimulai. Reynan terlihat santai memainkan stik miliknya, sedangkan Yogi sedikit kesulitan karena ia sudah lama tidak bermain konsol game ini. Babak pertama dimenangkan oleh Reynan si ketua futsal SMA GARUDA yang tentu saja bermain bola itu hal yang mudah baginya. Jenan menyoraki Reynan dan terus mengacungkan jempolnya karena permainan lelaki itu sangat keren.</p>

<p>Kini saatnya Janu yang bermain bersama Juna, teman-temannya tak sabar ingin melihat bagaimana permainan dari <em>Duo J</em> ini. Janu yang tak mau kalah di pasangkan dengan Juna yang pandai bermain game, mereka penasaran siapa yang akan menang.</p>

<p>“Nah kita lihat, siapa yang menang,” ujar Jenan penasaran.</p>

<p>“Ya udah pasti gue, si janu mah cupu,” ucap Juna percaya diri.</p>

<p>Janu tersenyum miring, “ga usah pede dulu, yang menang pasti gue.”</p>

<p>Saat permainan dimulai, keduanya menjadi sangat fokus. Mereka —Janu dan Juna— bertekad untuk menang dan tidak ada yang mau mengalah.</p>

<p>“Anjing! Lo jangan curang dong!” teriak Janu saat Juna mencoba menjatuhkan pemainnya.</p>

<p>“Mana ada curang, buktinya wasitnya diem,” balas Juna santai.</p>

<p>“Tuhkan anjing! lu kenapa sleding gue mulu sat!”</p>

<p>“Ya gue mau ngambil bola lah tolol!”</p>

<p>“Sit atuh sit! Lo jangan pilih kasih dong anjing, wasit goblog,” gerutu Janu.</p>

<p>Jenan dan yang lainnya hanya tertawa mendengar makian kedua lelaki itu. Hal yang sudah tidak aneh lagi jika mereka tengah bermain. <em>Duo J</em> itu pasti akan selalu bertengkar jika menjadi lawan.</p>

<hr/>

<p>Di sisi lain, seorang gadis cantik yang tengah tertidur pulas, terbangun ketika mendengar suara berisik yang ditimbulkan dari luar kamarnya. Dengan setengah sadar ia bangun dari tidurnya dan melihat keluar, memeriksa apa yang tengah terjadi di luar. Ayu membuka pintu kamarnya tanpa tahu keberadaan teman-temannya Janu, ketika gadis itu membuka pintu, semua mata yang ada langsung menoleh pada gadis itu.</p>

<p>“Apa sih nu…pagi-pagi udah berisik,” ujar Ayu dengan suara serak khas orang bangun tidur.</p>

<p>Janu menepuk jidatnya kencang ketika ia lupa akan hal ini, bagaimana bisa ia lupa bahwa kini dirinya sudah tidak tinggal sendirian. Janu merutuki dirinya sendiri karena dengan mudahnya memberikan kode sandi apartemennya kepada Juna. Ia melirik teman-temannya yang kini menatap gadis itu dengan mulut menganga, Janu berdecak ketika sadar bahwa baju yang gadis itu gunakan sedikit tersingkap, dengan cepat ia berdiri dari duduknya lalu menghampiri Ayu yang masih setengah sadar. Ia memblokir pandangan yang tak seharusnya teman-temannya lihat, Janu mendorong gadis itu masuk dan menutup pintunya dari dalam kamar.</p>

<p>“Lo kenapa bisa bangun sih?” tanya Janu dengan mata melotot.</p>

<p>Gadis itu tak menjawab, ia masih terlalu ngantuk untuk menjawab. Bahkan matanya kini masih menutup dengan sempurna.</p>

<p>Semuanya kembali menjadi heboh saat melihat pemandangan yang terbiasa tak terjadi.</p>

<p>“Woy anjir kok ada cewe?!”</p>

<p>“Janu lu bawa siapa itu bangsat!”</p>

<p>“Wah parah lo nu…”</p>

<p>“NGAPAIN LU MASUK KAMAR, BERDUAAN.”</p>

<p>Ayu yang tadi matanya masih menutup karena mengantuk, kini terbuka lebar ketika mendengar suara teriakan lelaki yang ada di apartemen Janu.</p>

<p>“I-itu siapa?”</p>

<p>Janu menghela nafas kasar, “temen-temen gue.”</p>

<p>Ayu menutup mulutnya tak percaya. “Beneran?” Janu mengangguk. “Terus gimana dong?!” tanya gadis itu cemas.</p>

<p>“Yaudah, kita ketahuan,” ketusnya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bubblescript.writeas.com/ketahuan-tw6z</guid>
      <pubDate>Wed, 15 Mar 2023 13:32:51 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ketahuan </title>
      <link>https://bubblescript.writeas.com/ketahuan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Janu menghela nafasnya begitu melihat teman-temannya yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Mereka membawa begitu banyak makanan, persiapan untuk bermain game playstation yang ada di apartemen Janu. Lelaki yang terganggu tidurnya itu menghampiri Juna yang sibuk ngemil lalu duduk di sampingnya. &#xA;&#xA;“Mau main apaan nih?” tanya Agam yang tengah serius melihat layar televisi. &#xA;&#xA;“Fifa lah, apalagi?” balas Reynan. &#xA;&#xA;Agam mengangguk, ia langsung memilih game yang Reynan maksud. Sebelum bermain mereka melakukan hompimpa terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang akan main lebih dulu lalu memilih lawan mereka sendiri. Mereka membagi menjadi tiga babak untuk bermain permainan sepak bola tersebut. Hasilnya, yang pertama bermain adalah Reynan melawan Yogi, yang kedua Janu melawan Juna dan terakhir Jenan melawan Agam. &#xA;&#xA;Para remaja laki-laki itu mulai bersemangat ketika pertandingan babak pertama dimulai. Reynan terlihat santai memainkan stik miliknya, sedangkan Yogi sedikit kesulitan karena ia sudah lama tidak bermain konsol game ini. Babak pertama dimenangkan oleh Reynan si ketua futsal SMA GARUDA yang tentu saja bermain bola itu hal yang mudah baginya. Jenan menyoraki Reynan dan terus mengacungkan jempolnya karena permainan lelaki itu sangat keren. &#xA;&#xA;Kini saatnya Janu yang bermain bersama Juna, teman-temannya tak sabar ingin melihat bagaimana permainan dari Duo J ini. Janu yang tak mau kalah di pasangkan dengan Juna yang pandai bermain game, mereka penasaran siapa yang akan menang. &#xA;&#xA;“Nah kita lihat, siapa yang menang,” ujar Jenan penasaran.&#xA;&#xA;“Ya udah pasti gue, si janu mah cupu,” ucap Juna percaya diri. &#xA;&#xA;Janu tersenyum miring, “ga usah pede dulu, yang menang pasti gue.”&#xA;&#xA;Saat permainan dimulai, keduanya menjadi sangat fokus. Mereka —Janu dan Juna— bertekad untuk menang dan tidak ada yang mau mengalah. &#xA;&#xA;“Anjing! Lo jangan curang dong!” teriak Janu saat Juna mencoba menjatuhkan pemainnya. &#xA;&#xA;“Mana ada curang, buktinya wasitnya diem,” balas Juna santai. &#xA;&#xA;“Tuhkan anjing! lu kenapa sleding gue mulu sat!” &#xA;&#xA;“Ya gue mau ngambil bola lah tolol!” &#xA;&#xA;“Sit atuh sit! Lo jangan pilih kasih dong anjing, wasit goblog,” gerutu Janu. &#xA;&#xA;Jenan dan yang lainnya hanya tertawa mendengar makian kedua lelaki itu. Hal yang sudah tidak aneh lagi jika mereka tengah bermain. Duo J itu pasti akan selalu bertengkar jika menjadi lawan. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Di sisi lain, seorang gadis cantik yang tengah tertidur pulas, terbangun ketika mendengar suara berisik yang ditimbulkan dari luar kamarnya. Dengan setengah sadar ia bangun dari tidurnya dan melihat keluar, memeriksa apa yang tengah terjadi di luar. Ayu membuka pintu kamarnya tanpa tahu keberadaan teman-temannya Janu, ketika gadis itu membuka pintu, semua mata yang ada langsung menoleh pada gadis itu.&#xA;&#xA;“Apa sih nu…pagi-pagi udah berisik,” ujar Ayu dengan suara serak khas orang bangun tidur. &#xA;&#xA;Janu menepuk jidatnya kencang ketika ia lupa akan hal ini, bagaimana bisa ia lupa bahwa kini dirinya sudah tidak tinggal sendirian. Janu merutuki dirinya sendiri karena dengan mudahnya memberikan kode sandi apartemennya kepada Juna. Ia melirik teman-temannya yang kini menatap gadis itu dengan mulut menganga, Janu berdecak ketika sadar bahwa baju yang gadis itu gunakan sedikit tersingkap, dengan cepat ia berdiri dari duduknya lalu menghampiri Ayu yang masih setengah sadar. Ia memblokir pandangan yang tak seharusnya teman-temannya lihat, Janu mendorong gadis itu masuk dan menutup pintunya dari dalam kamar. &#xA;&#xA;“Lo kenapa bisa bangun sih?” tanya Janu dengan mata melotot.&#xA;&#xA;Gadis itu tak menjawab, ia masih terlalu ngantuk untuk menjawab. Bahkan matanya kini masih menutup dengan sempurna.&#xA;&#xA;Semuanya kembali menjadi heboh saat melihat pemandangan yang terbiasa tak terjadi.&#xA;&#xA;“Woy anjir kok ada cewe?!”&#xA;&#xA;“Janu lu bawa siapa itu bangsat!”&#xA;&#xA;“Wah parah lo nu…”&#xA;&#xA;“NGAPAIN LU MASUK KAMAR, BERDUAAN.”&#xA;&#xA;Ayu yang tadi matanya masih menutup karena mengantuk, kini terbuka lebar ketika mendengar suara teriakan lelaki yang ada di apartemen Janu.&#xA;&#xA;“I-itu siapa?”&#xA;&#xA;Janu menghela nafas kasar, “temen-temen gue.”&#xA;&#xA;Ayu menutup mulutnya tak percaya. “Beneran?” Janu mengangguk. “Terus gimana dong?!” tanya gadis itu cemas.&#xA;&#xA;“Yaudah, kita ketahuan,” ketusnya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Janu menghela nafasnya begitu melihat teman-temannya yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Mereka membawa begitu banyak makanan, persiapan untuk bermain game <em>playstation</em> yang ada di apartemen Janu. Lelaki yang terganggu tidurnya itu menghampiri Juna yang sibuk ngemil lalu duduk di sampingnya.</p>

<p>“Mau main apaan nih?” tanya Agam yang tengah serius melihat layar televisi.</p>

<p>“<em>Fifa</em> lah, apalagi?” balas Reynan.</p>

<p>Agam mengangguk, ia langsung memilih game yang Reynan maksud. Sebelum bermain mereka melakukan hompimpa terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang akan main lebih dulu lalu memilih lawan mereka sendiri. Mereka membagi menjadi tiga babak untuk bermain permainan sepak bola tersebut. Hasilnya, yang pertama bermain adalah Reynan melawan Yogi, yang kedua Janu melawan Juna dan terakhir Jenan melawan Agam.</p>

<p>Para remaja laki-laki itu mulai bersemangat ketika pertandingan babak pertama dimulai. Reynan terlihat santai memainkan stik miliknya, sedangkan Yogi sedikit kesulitan karena ia sudah lama tidak bermain konsol game ini. Babak pertama dimenangkan oleh Reynan si ketua futsal SMA GARUDA yang tentu saja bermain bola itu hal yang mudah baginya. Jenan menyoraki Reynan dan terus mengacungkan jempolnya karena permainan lelaki itu sangat keren.</p>

<p>Kini saatnya Janu yang bermain bersama Juna, teman-temannya tak sabar ingin melihat bagaimana permainan dari <em>Duo J</em> ini. Janu yang tak mau kalah di pasangkan dengan Juna yang pandai bermain game, mereka penasaran siapa yang akan menang.</p>

<p>“Nah kita lihat, siapa yang menang,” ujar Jenan penasaran.</p>

<p>“Ya udah pasti gue, si janu mah cupu,” ucap Juna percaya diri.</p>

<p>Janu tersenyum miring, “ga usah pede dulu, yang menang pasti gue.”</p>

<p>Saat permainan dimulai, keduanya menjadi sangat fokus. Mereka —Janu dan Juna— bertekad untuk menang dan tidak ada yang mau mengalah.</p>

<p>“Anjing! Lo jangan curang dong!” teriak Janu saat Juna mencoba menjatuhkan pemainnya.</p>

<p>“Mana ada curang, buktinya wasitnya diem,” balas Juna santai.</p>

<p>“Tuhkan anjing! lu kenapa sleding gue mulu sat!”</p>

<p>“Ya gue mau ngambil bola lah tolol!”</p>

<p>“Sit atuh sit! Lo jangan pilih kasih dong anjing, wasit goblog,” gerutu Janu.</p>

<p>Jenan dan yang lainnya hanya tertawa mendengar makian kedua lelaki itu. Hal yang sudah tidak aneh lagi jika mereka tengah bermain. <em>Duo J</em> itu pasti akan selalu bertengkar jika menjadi lawan.</p>

<hr/>

<p>Di sisi lain, seorang gadis cantik yang tengah tertidur pulas, terbangun ketika mendengar suara berisik yang ditimbulkan dari luar kamarnya. Dengan setengah sadar ia bangun dari tidurnya dan melihat keluar, memeriksa apa yang tengah terjadi di luar. Ayu membuka pintu kamarnya tanpa tahu keberadaan teman-temannya Janu, ketika gadis itu membuka pintu, semua mata yang ada langsung menoleh pada gadis itu.</p>

<p>“Apa sih nu…pagi-pagi udah berisik,” ujar Ayu dengan suara serak khas orang bangun tidur.</p>

<p>Janu menepuk jidatnya kencang ketika ia lupa akan hal ini, bagaimana bisa ia lupa bahwa kini dirinya sudah tidak tinggal sendirian. Janu merutuki dirinya sendiri karena dengan mudahnya memberikan kode sandi apartemennya kepada Juna. Ia melirik teman-temannya yang kini menatap gadis itu dengan mulut menganga, Janu berdecak ketika sadar bahwa baju yang gadis itu gunakan sedikit tersingkap, dengan cepat ia berdiri dari duduknya lalu menghampiri Ayu yang masih setengah sadar. Ia memblokir pandangan yang tak seharusnya teman-temannya lihat, Janu mendorong gadis itu masuk dan menutup pintunya dari dalam kamar.</p>

<p>“Lo kenapa bisa bangun sih?” tanya Janu dengan mata melotot.</p>

<p>Gadis itu tak menjawab, ia masih terlalu ngantuk untuk menjawab. Bahkan matanya kini masih menutup dengan sempurna.</p>

<p>Semuanya kembali menjadi heboh saat melihat pemandangan yang terbiasa tak terjadi.</p>

<p>“Woy anjir kok ada cewe?!”</p>

<p>“Janu lu bawa siapa itu bangsat!”</p>

<p>“Wah parah lo nu…”</p>

<p>“NGAPAIN LU MASUK KAMAR, BERDUAAN.”</p>

<p>Ayu yang tadi matanya masih menutup karena mengantuk, kini terbuka lebar ketika mendengar suara teriakan lelaki yang ada di apartemen Janu.</p>

<p>“I-itu siapa?”</p>

<p>Janu menghela nafas kasar, “temen-temen gue.”</p>

<p>Ayu menutup mulutnya tak percaya. “Beneran?” Janu mengangguk. “Terus gimana dong?!” tanya gadis itu cemas.</p>

<p>“Yaudah, kita ketahuan,” ketusnya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bubblescript.writeas.com/ketahuan</guid>
      <pubDate>Wed, 15 Mar 2023 13:04:21 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Makan Malam </title>
      <link>https://bubblescript.writeas.com/makan-malam?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Setelah acara saltingnya selesai. Janu segera bersiap-siap untuk mengajak Ayu makan malam di luar. Ia memakai hoodie hitam dan juga celana jeans yang senada dengan hoodie nya, tak lupa ia menyemprotkan parfum untuk menghindari bau badan. &#xA;&#xA;Ia keluar dari kamar sembari membawa dompet dan kunci motor miliknya. Ia mengetuk pintu kamar Ayu pelan, tak lama kemudian pintu itu terbuka. Janu menatap Ayu dengan heran, ia meneliti penampilan gadis itu dari atas sampai bawah.&#xA;&#xA;“Gak ganti baju?” &#xA;&#xA;Gadis itu memiringkan kepalanya dengan wajah bingung. “Emang mau kemana?” &#xA;&#xA;“Makan diluar,” jelas Janu.&#xA;&#xA;“Oh… yaudah tunggu dulu, mau ganti baju.” Ayu segera menutup pintunya kembali dan langsung memakai baju hangat, karena hari ini Bandung sangat dingin. &#xA;&#xA;“Pake baju anget! Sama celana panjang!” teriak Janu.&#xA;&#xA;“IYA!”&#xA;&#xA;Selang beberapa menit gadis itu akhirnya keluar, ia mengenakan pakaian yang sama seperti Janu hanya berbeda di warna saja. Janu segera bangkit dari duduknya dan memasukan ponselnya kedalam saku. &#xA;&#xA;—&#xA;&#xA;Janu membawa Ayu mengelilingi kota terlebih dahulu sebelum makan malam. Gadis itu dengan nyaman memeluk Janu dari belakang tanpa mengetahui jika lelaki yang ia peluk tengah menahan diri agar tidak berteriak akibat jantungnya yang berdegup kencang. &#xA;&#xA;“Bandung kalo malem cakep banget ya Nu.” Janu mengangguk setuju. “Kalo gue cakep ga?” celetuknya.  &#xA;&#xA;“Cantik kalo diliat dari lubang sedotan,” canda Janu.&#xA;&#xA;Ayu mendengus sebal lalu memukul lelaki itu tepat di bahu. Janu hanya tertawa melihat reaksi gadis itu dari spionnya. &#xA;&#xA;Akhirnya setelah lima belas menit mereka berkeliling, kini mereka memutuskan untuk makan sate di pinggir jalan. Ayu segera turun dari motor tanpa melepas helm membuat Janu menggeleng. Janu mendekati gadis yang terlihat senang itu sembari menenteng helm mahalnya. &#xA;&#xA;“Lepas dulu helm nya,” ujarnya sembari melepaskan helm dari kepala Ayu lalu memberikan helm itu agar di pegang Ayu. &#xA;&#xA;“Oh iya, hehe…makasih sayang,” ucapnya sembari mengedipkan sebelah matanya genit.&#xA;&#xA;Janu bergidik melihat pemandangan tadi, walaupun jantung menjadi tak tenang kembali.&#xA;&#xA;“Nyebelin lu.” Janu hanya tersenyum miring membuat Ayu semakin sebal. &#xA;&#xA;“Lo duduk aja, biar gue yang pesen,” pintanya.&#xA;Gadis itu mengangguk tanpa melawan. Ia segera duduk di tempat yang sudah disediakan. Setelah selesai memesan, Janu segera mendekati Ayu dan duduk disampingnya. Ia memperhatikan gadis yang tengah fokus memandang sekitar itu lama, sehingga saat mata gadis itu melihat ke arah Janu, keduanya menjadi bertatapan. Janu segera membuang pandangannya, ia belum bisa menatap mata gadis itu jika dari dekat. &#xA;&#xA;Ayu mengangkat sebelah alisnya heran lalu mengedikkan bahunya tak peduli. Akhirnya pesanan sate ditambah lontong keduanya sudah siap, mereka berdua langsung memakan pesanan mereka terlebih tanpa adanya percakapan. &#xA;&#xA;“Langsung pulang yuk? Gue ngantuk,” pinta Ayu setelah menghabiskan makanannya. &#xA;&#xA;Janu mengangguk, “yuk pulang.” &#xA;&#xA;Keduanya bangkit dari kursi berbarengan, Ayu yang awalnya akan mengeluarkan uang langsung Janu tahan. &#xA;&#xA;“Gue aja yang bayar, kan gue yang ajak.” Gadis itu segera menyimpan dompetnya kembali kedalam saku tanpa protes, ia sudah terlalu mengantuk untuk ribut. &#xA;&#xA;“Yuk.” Janu menarik gadis yang terlihat hampir tertidur itu pelan ke arah motor. Ia memakaikan helm gadis itu dengan perlahan, setelahnya ia memakai helmnya sendiri dan menaiki motornya. Tak lupa ia membuka pijakan motor untuk Ayu agar gadis itu langsung naik. &#xA;&#xA;Ayu segera menaiki motor Janu, setelah duduk di jok, gadis itu langsung memeluk Janu dan menyimpan dagunya di bahu Janu. Janu bergeming karena sikap Ayu yang selalu membuat jantungnya berdebar. Ia menghembuskan nafasnya pelan, mencoba menenangkan dirinya sebelum menyalakan motor. &#xA;&#xA;“Kenapa masih diem? Ayo pulang...” rengek Ayu.&#xA;&#xA;“Iya.”&#xA;&#xA;Setelah dirasa jantungnya mulai tenang, Janu segera melajukan menyalakan motornya dan mulai melajukan motornya untuk pulang. Sepertinya mulai saat ini, ia akan sering-sering membawa Ayu makan diluar. Entah mengapa ia merasa senang luar biasa karena bisa berduaan dengan gadis itu, karena jika di apartemen mereka akan sibuk di kamar masing-masing.&#xA;&#xA;Lumayan lah ya, modus dikit.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Setelah acara saltingnya selesai. Janu segera bersiap-siap untuk mengajak Ayu makan malam di luar. Ia memakai <em>hoodie</em> hitam dan juga celana jeans yang senada dengan <em>hoodie</em> nya, tak lupa ia menyemprotkan parfum untuk menghindari bau badan.</p>

<p>Ia keluar dari kamar sembari membawa dompet dan kunci motor miliknya. Ia mengetuk pintu kamar Ayu pelan, tak lama kemudian pintu itu terbuka. Janu menatap Ayu dengan heran, ia meneliti penampilan gadis itu dari atas sampai bawah.</p>

<p>“Gak ganti baju?”</p>

<p>Gadis itu memiringkan kepalanya dengan wajah bingung. “Emang mau kemana?”</p>

<p>“Makan diluar,” jelas Janu.</p>

<p>“Oh… yaudah tunggu dulu, mau ganti baju.” Ayu segera menutup pintunya kembali dan langsung memakai baju hangat, karena hari ini Bandung sangat dingin.</p>

<p>“Pake baju anget! Sama celana panjang!” teriak Janu.</p>

<p>“IYA!”</p>

<p>Selang beberapa menit gadis itu akhirnya keluar, ia mengenakan pakaian yang sama seperti Janu hanya berbeda di warna saja. Janu segera bangkit dari duduknya dan memasukan ponselnya kedalam saku.</p>

<p>—</p>

<p>Janu membawa Ayu mengelilingi kota terlebih dahulu sebelum makan malam. Gadis itu dengan nyaman memeluk Janu dari belakang tanpa mengetahui jika lelaki yang ia peluk tengah menahan diri agar tidak berteriak akibat jantungnya yang berdegup kencang.</p>

<p>“Bandung kalo malem cakep banget ya Nu.” Janu mengangguk setuju. “Kalo gue cakep ga?” celetuknya.</p>

<p>“Cantik kalo diliat dari lubang sedotan,” canda Janu.</p>

<p>Ayu mendengus sebal lalu memukul lelaki itu tepat di bahu. Janu hanya tertawa melihat reaksi gadis itu dari spionnya.</p>

<p>Akhirnya setelah lima belas menit mereka berkeliling, kini mereka memutuskan untuk makan sate di pinggir jalan. Ayu segera turun dari motor tanpa melepas helm membuat Janu menggeleng. Janu mendekati gadis yang terlihat senang itu sembari menenteng helm mahalnya.</p>

<p>“Lepas dulu helm nya,” ujarnya sembari melepaskan helm dari kepala Ayu lalu memberikan helm itu agar di pegang Ayu.</p>

<p>“Oh iya, hehe…makasih sayang,” ucapnya sembari mengedipkan sebelah matanya genit.</p>

<p>Janu bergidik melihat pemandangan tadi, walaupun jantung menjadi tak tenang kembali.</p>

<p>“Nyebelin lu.” Janu hanya tersenyum miring membuat Ayu semakin sebal.</p>

<p>“Lo duduk aja, biar gue yang pesen,” pintanya.
Gadis itu mengangguk tanpa melawan. Ia segera duduk di tempat yang sudah disediakan. Setelah selesai memesan, Janu segera mendekati Ayu dan duduk disampingnya. Ia memperhatikan gadis yang tengah fokus memandang sekitar itu lama, sehingga saat mata gadis itu melihat ke arah Janu, keduanya menjadi bertatapan. Janu segera membuang pandangannya, ia belum bisa menatap mata gadis itu jika dari dekat.</p>

<p>Ayu mengangkat sebelah alisnya heran lalu mengedikkan bahunya tak peduli. Akhirnya pesanan sate ditambah lontong keduanya sudah siap, mereka berdua langsung memakan pesanan mereka terlebih tanpa adanya percakapan.</p>

<p>“Langsung pulang yuk? Gue ngantuk,” pinta Ayu setelah menghabiskan makanannya.</p>

<p>Janu mengangguk, “yuk pulang.”</p>

<p>Keduanya bangkit dari kursi berbarengan, Ayu yang awalnya akan mengeluarkan uang langsung Janu tahan.</p>

<p>“Gue aja yang bayar, kan gue yang ajak.” Gadis itu segera menyimpan dompetnya kembali kedalam saku tanpa protes, ia sudah terlalu mengantuk untuk ribut.</p>

<p>“Yuk.” Janu menarik gadis yang terlihat hampir tertidur itu pelan ke arah motor. Ia memakaikan helm gadis itu dengan perlahan, setelahnya ia memakai helmnya sendiri dan menaiki motornya. Tak lupa ia membuka pijakan motor untuk Ayu agar gadis itu langsung naik.</p>

<p>Ayu segera menaiki motor Janu, setelah duduk di jok, gadis itu langsung memeluk Janu dan menyimpan dagunya di bahu Janu. Janu bergeming karena sikap Ayu yang selalu membuat jantungnya berdebar. Ia menghembuskan nafasnya pelan, mencoba menenangkan dirinya sebelum menyalakan motor.</p>

<p>“Kenapa masih diem? Ayo pulang...” rengek Ayu.</p>

<p>“Iya.”</p>

<p>Setelah dirasa jantungnya mulai tenang, Janu segera melajukan menyalakan motornya dan mulai melajukan motornya untuk pulang. Sepertinya mulai saat ini, ia akan sering-sering membawa Ayu makan diluar. Entah mengapa ia merasa senang luar biasa karena bisa berduaan dengan gadis itu, karena jika di apartemen mereka akan sibuk di kamar masing-masing.</p>

<p><em>Lumayan lah ya, modus dikit.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bubblescript.writeas.com/makan-malam</guid>
      <pubDate>Mon, 13 Mar 2023 13:17:04 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Marcel Orion </title>
      <link>https://bubblescript.writeas.com/marcel-orion?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Setelah mendapat pesan dari Marcel, Ayu bangkit dari duduknya dan menghampiri lelaki itu. Niatnya ia akan memeluk lelaki itu lebih dulu, tapi saat ia menghampiri meja makan, ia tak melihat Marcel dan juga Jaylani. &#xA;&#xA;“Lah? Ini pada kemana?” &#xA;&#xA;“Disini,” bisik Marcel sembari memeluk gadis itu dari belakang. &#xA;&#xA;Ayu bergeming ketika Marcel memeluknya dari belakang. Ia bahkan tidak sadar jika dirinya tengah menahan nafas karena perbuatan mantannya itu. Perlahan gadis itu membalikkan badannya, ditatapnya lelaki yang sudah tak ia lihat selama setahun itu dengan rindu. &#xA;&#xA;“Jangan nangis,” ujar Marcel ketika melihat mata gadis itu yang mulai berkaca-kaca. Lelaki itu dengan segera menarik Ayu kedalam pelukannya, ia menumpu dagunya diatas kepala gadis itu. Dihirupnya wangi khas yang dimiliki oleh gadis itu, ini yang selalu ia rindukan setelah lama berpisah dari Ayu. &#xA;&#xA;“Kangen…” lirih Ayu. &#xA;&#xA;“Sama, aku juga kangen bangeet sama kamu.”&#xA;&#xA;“Jahat.”&#xA;&#xA;Marcel menghembuskan nafasnya pelan, “Maaf, aku ninggalin kamu, lagian aku ngajakin ldr kamu gamau.”&#xA;&#xA;Gadis itu mendongak menatap Marcel, “soalnya aku ga percaya sama hubungan jarak jauh!” ujar gadis itu marah.&#xA;&#xA;Marcel terkekeh pelan, “iya sayang iya, makanya aku setuju waktu itu.”&#xA;&#xA;“Sayang-sayang, kita udah jadi mantan kali,” gumam Ayu sembari menenggelamkan wajahnya di dada lelaki itu. &#xA;&#xA;“Oh iya lupa,” ujarnya sembari mengeratkan pelukannya. &#xA;&#xA;“Ini mau sampai kapan kita pelukan sambil berdiri?” tanya Ayu. &#xA;&#xA;Marcel menjauhkan dirinya segera, ia lalu menarik Ayu ke arah ruang tamu. Ia mendudukkan diri di atas sofa dan menyuruh gadis itu duduk di sampingnya. Ditarik lengan gadis itu agar memeluknya dari samping. &#xA;&#xA;“Nah sekarang udah ga berdiri,” ujar Marcel. &#xA;&#xA;Ayu mendongak menatap Marcel lalu tersenyum dengan manis, ternyata lelaki ini masih sama saja seperti dulu. Marcel membalas senyuman yang Ayu berikan sembari mengelus pelan pipi gadis itu. Keduanya terdiam sambil saling tatap, Ayu yang menatap Marcel dengan pipi yang berada diatas dada lelaki itu dan Marcel yang menatapnya dengan lengan yang masih mengelus pipi gadis itu. &#xA;&#xA;“Lucu banget sih,” celetuk Marcel sambil mencubit pipi gadis itu pelan. “Ini beneran ga mau balikan apa?” tanyanya. &#xA;&#xA;“Yuk bilang dulu, Asyhadu…” &#xA;&#xA;Marcel tergelak ketika mendengar kalimat yang selalu gadis itu ucapkan dulu muncul kembali setelah sekian lama. Ia dengan gemas menggigit pipi gadis itu lalu menciumnya tanpa sadar. &#xA;&#xA;“Ah…lucu banget sih!” gemasnya. &#xA;&#xA;“HEH! BERBUAT MESUM YA MANEH BERDUA!” teriak Jay — om Ayu. &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Setelah mendapat pesan dari Marcel, Ayu bangkit dari duduknya dan menghampiri lelaki itu. Niatnya ia akan memeluk lelaki itu lebih dulu, tapi saat ia menghampiri meja makan, ia tak melihat Marcel dan juga Jaylani.</p>

<p>“Lah? Ini pada kemana?”</p>

<p>“Disini,” bisik Marcel sembari memeluk gadis itu dari belakang.</p>

<p>Ayu bergeming ketika Marcel memeluknya dari belakang. Ia bahkan tidak sadar jika dirinya tengah menahan nafas karena perbuatan mantannya itu. Perlahan gadis itu membalikkan badannya, ditatapnya lelaki yang sudah tak ia lihat selama setahun itu dengan rindu.</p>

<p>“Jangan nangis,” ujar Marcel ketika melihat mata gadis itu yang mulai berkaca-kaca. Lelaki itu dengan segera menarik Ayu kedalam pelukannya, ia menumpu dagunya diatas kepala gadis itu. Dihirupnya wangi khas yang dimiliki oleh gadis itu, ini yang selalu ia rindukan setelah lama berpisah dari Ayu.</p>

<p>“Kangen…” lirih Ayu.</p>

<p>“Sama, aku juga kangen bangeet sama kamu.”</p>

<p>“Jahat.”</p>

<p>Marcel menghembuskan nafasnya pelan, “Maaf, aku ninggalin kamu, lagian aku ngajakin ldr kamu gamau.”</p>

<p>Gadis itu mendongak menatap Marcel, “soalnya aku ga percaya sama hubungan jarak jauh!” ujar gadis itu marah.</p>

<p>Marcel terkekeh pelan, “iya sayang iya, makanya aku setuju waktu itu.”</p>

<p>“Sayang-sayang, kita udah jadi mantan kali,” gumam Ayu sembari menenggelamkan wajahnya di dada lelaki itu.</p>

<p>“Oh iya lupa,” ujarnya sembari mengeratkan pelukannya.</p>

<p>“Ini mau sampai kapan kita pelukan sambil berdiri?” tanya Ayu.</p>

<p>Marcel menjauhkan dirinya segera, ia lalu menarik Ayu ke arah ruang tamu. Ia mendudukkan diri di atas sofa dan menyuruh gadis itu duduk di sampingnya. Ditarik lengan gadis itu agar memeluknya dari samping.</p>

<p>“Nah sekarang udah ga berdiri,” ujar Marcel.</p>

<p>Ayu mendongak menatap Marcel lalu tersenyum dengan manis, ternyata lelaki ini masih sama saja seperti dulu. Marcel membalas senyuman yang Ayu berikan sembari mengelus pelan pipi gadis itu. Keduanya terdiam sambil saling tatap, Ayu yang menatap Marcel dengan pipi yang berada diatas dada lelaki itu dan Marcel yang menatapnya dengan lengan yang masih mengelus pipi gadis itu.</p>

<p>“Lucu banget sih,” celetuk Marcel sambil mencubit pipi gadis itu pelan. “Ini beneran ga mau balikan apa?” tanyanya.</p>

<p>“Yuk bilang dulu, <em>Asyhadu</em>…”</p>

<p>Marcel tergelak ketika mendengar kalimat yang selalu gadis itu ucapkan dulu muncul kembali setelah sekian lama. Ia dengan gemas menggigit pipi gadis itu lalu menciumnya tanpa sadar.</p>

<p>“Ah…lucu banget sih!” gemasnya.</p>

<p>“HEH! BERBUAT MESUM YA MANEH BERDUA!” teriak Jay — om Ayu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bubblescript.writeas.com/marcel-orion</guid>
      <pubDate>Wed, 01 Mar 2023 12:44:02 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sebuah Pelukan</title>
      <link>https://bubblescript.writeas.com/sebuah-pelukan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Ayu berdiam diri di bangkunya dengan gelisah. Ia benar-benar takut jika Janu menghampiri Reya dan melampiaskan amarahnya pada gadis itu. Selang beberapa menit akhirnya lelaki yang bernama Jenan itu menghampirinya dengan terburu-buru. &#xA;&#xA;Ia menarik Ayu tanpa bicara apa-apa. Semua orang yang berada di kelas menatap mereka dengan heran. Mereka melesat begitu saja tanpa memperdulikan sekitar. Ayu sedikit kewalahan karena langkah yang Jenan ambil sangat besar karena kakinya panjang, berbeda dengan dirinya yang pendek.&#xA;&#xA;“Bisa pelan-pelan ga sih?” tanya Ayu.&#xA;&#xA;“Ga bisa, Janu bakalan pergi sebentar lagi kalo lo ga muncul,” balasnya sambil menarik Ayu agar lebih cepat sampai. &#xA;&#xA;Apa urusannya sama gue sih anjir?&#xA;&#xA;Keduanya akhirnya sampai di warkang. Bisa Ayu lihat, Teman-temannya Janu tengah duduk mengelilingi Janu. Mereka menahan lelaki yang tengah marah itu dengan kaki mereka yang berada di atas paha Janu.&#xA;&#xA;“Nah tuh datang,” ujar Arjuna ketika melihat Ayu yang ditarik oleh Jenan. &#xA;&#xA;Semuanya menoleh termasuk Janu, semuanya langsung menyingkir dari Janu dan mempersilahkan Ayu untuk mendekati lelaki itu. &#xA;&#xA;“Apa?” tanya Ayu ketika berhadapan dengan Janu yang terduduk. Lelaki itu berdiri dari duduknya dan langsung memeluk gadis itu tanpa aba-aba membuat gadis itu terkejut. &#xA;“Janu?”&#xA;&#xA;“Hm.”&#xA;&#xA;“Lo ngapain meluk gue!” gadis itu berontak, mencoba untuk melepaskan pelukan lelaki itu. “Lepasin gak?!”&#xA;&#xA;“Gak!” tegasnya. &#xA;&#xA;“Gue tendang anu lo nih ya!” ancam gadis itu. &#xA;&#xA;“Gue lagi marah, lo bisa ga diem dulu? Gue gamau marah.”&#xA;&#xA;“Urusannya ama peluk gue apaan anjing! Lepasin gak?!” Ayu masih mencoba untuk melepaskan pelukan Janu, tapi terlalu sulit karena lelaki itu memeluknya dengan erat.&#xA;&#xA;“Karena pelukkan lo bikin gue tenang.”&#xA;&#xA;Bohong. Padahal jantungnya kini berdetak dengan cepat, bahkan jika diperhatikan baik-baik, telinga lelaki itu memerah akibat perbuatannya sendiri.&#xA;&#xA;“Halah sepik! Bilang aja modus cok,” ejek Arjuna. &#xA;&#xA;“Bilang aja suka makanya peluk-peluk,” sambung Jenan.&#xA;&#xA;Janu berdecak kesal, “bisa diem gak anjing?” omelnya sembari menatap teman-temannya sinis.&#xA;&#xA;“Lepasin Janu…”&#xA;&#xA;“Ay… sebentar aja, bolehkan? Lo mau gue nyamperin Reya?” gadis itu menggeleng. “Yaudah diem, kalau bisa bales pelukan gue.”&#xA;&#xA;“Lo nyuruh gue?” Janu tak menjawab, ia malah menatap Ayu dengan tajam. Membuat gadis itu kikuk karena tatapan lelaki itu. &#xA;&#xA;Dengan perlahan Ayu memilih untuk membalas pelukan lelaki itu, saat kedua tangannya sudah melingkar di pinggang Janu. Ia bisa merasakan kepalanya menjadi berat, sepertinya lelaki itu menaruh dagu pada kepalanya. Ayu menepuk punggung lebar Janu dengan pelan, berharap amarah lelaki itu segera mereda. &#xA;&#xA;“Lo cuci rambut ga sih? Rambut lo bau sampah.”&#xA;&#xA;“JANU BRENGSEK!”&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Ayu berdiam diri di bangkunya dengan gelisah. Ia benar-benar takut jika Janu menghampiri Reya dan melampiaskan amarahnya pada gadis itu. Selang beberapa menit akhirnya lelaki yang bernama Jenan itu menghampirinya dengan terburu-buru.</p>

<p>Ia menarik Ayu tanpa bicara apa-apa. Semua orang yang berada di kelas menatap mereka dengan heran. Mereka melesat begitu saja tanpa memperdulikan sekitar. Ayu sedikit kewalahan karena langkah yang Jenan ambil sangat besar karena kakinya panjang, berbeda dengan dirinya yang pendek.</p>

<p>“Bisa pelan-pelan ga sih?” tanya Ayu.</p>

<p>“Ga bisa, Janu bakalan pergi sebentar lagi kalo lo ga muncul,” balasnya sambil menarik Ayu agar lebih cepat sampai.</p>

<p><em>Apa urusannya sama gue sih anjir?</em></p>

<p>Keduanya akhirnya sampai di warkang. Bisa Ayu lihat, Teman-temannya Janu tengah duduk mengelilingi Janu. Mereka menahan lelaki yang tengah marah itu dengan kaki mereka yang berada di atas paha Janu.</p>

<p>“Nah tuh datang,” ujar Arjuna ketika melihat Ayu yang ditarik oleh Jenan.</p>

<p>Semuanya menoleh termasuk Janu, semuanya langsung menyingkir dari Janu dan mempersilahkan Ayu untuk mendekati lelaki itu.</p>

<p>“Apa?” tanya Ayu ketika berhadapan dengan Janu yang terduduk. Lelaki itu berdiri dari duduknya dan langsung memeluk gadis itu tanpa aba-aba membuat gadis itu terkejut.
“Janu?”</p>

<p>“Hm.”</p>

<p>“Lo ngapain meluk gue!” gadis itu berontak, mencoba untuk melepaskan pelukan lelaki itu. “Lepasin gak?!”</p>

<p>“Gak!” tegasnya.</p>

<p>“Gue tendang anu lo nih ya!” ancam gadis itu.</p>

<p>“Gue lagi marah, lo bisa ga diem dulu? Gue gamau marah.”</p>

<p>“Urusannya ama peluk gue apaan anjing! Lepasin gak?!” Ayu masih mencoba untuk melepaskan pelukan Janu, tapi terlalu sulit karena lelaki itu memeluknya dengan erat.</p>

<p>“Karena pelukkan lo bikin gue tenang.”</p>

<p>Bohong. Padahal jantungnya kini berdetak dengan cepat, bahkan jika diperhatikan baik-baik, telinga lelaki itu memerah akibat perbuatannya sendiri.</p>

<p>“Halah sepik! Bilang aja modus cok,” ejek Arjuna.</p>

<p>“Bilang aja suka makanya peluk-peluk,” sambung Jenan.</p>

<p>Janu berdecak kesal, “bisa diem gak anjing?” omelnya sembari menatap teman-temannya sinis.</p>

<p>“Lepasin Janu…”</p>

<p>“Ay… sebentar aja, bolehkan? Lo mau gue nyamperin Reya?” gadis itu menggeleng. “Yaudah diem, kalau bisa bales pelukan gue.”</p>

<p>“Lo nyuruh gue?” Janu tak menjawab, ia malah menatap Ayu dengan tajam. Membuat gadis itu kikuk karena tatapan lelaki itu.</p>

<p>Dengan perlahan Ayu memilih untuk membalas pelukan lelaki itu, saat kedua tangannya sudah melingkar di pinggang Janu. Ia bisa merasakan kepalanya menjadi berat, sepertinya lelaki itu menaruh dagu pada kepalanya. Ayu menepuk punggung lebar Janu dengan pelan, berharap amarah lelaki itu segera mereda.</p>

<p>“Lo cuci rambut ga sih? Rambut lo bau sampah.”</p>

<p>“JANU BRENGSEK!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bubblescript.writeas.com/sebuah-pelukan</guid>
      <pubDate>Sat, 25 Feb 2023 13:20:10 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>102 </title>
      <link>https://bubblescript.writeas.com/102-qfrb?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Hari ini kelas 11 Ipa 5 tengah melangsungkan pelajaran olahraga dengan materi tentang bola basket. Setiap orang dikelompokkan menjadi dua orang untuk latihan, dan sialnya Ayu dan Janu dipilih untuk menjadi satu tim. &#xA;&#xA;“Ayu pasangan kamu sama Janu ya.” &#xA;&#xA;Semua murid langsung bersorak karena orang yang selalu bertengkar itu bersatu. &#xA;&#xA;“CIEE…ASIK NIH PASANGAN GELUT BERSATU.”&#xA;&#xA;“Aduh aduh bakalan ada keributan nich bentar lagi.”&#xA;&#xA;“IEU MAH KEDENG DEUI GE JADIAN LAH” &#xA;&#xA;“Pak Budi! Aku gamau ah kalo sama Janu,” protes Ayu dengan wajah cemberut. &#xA;&#xA;“Kenapa? takut naksir ya?” goda pak Budi. &#xA;&#xA;Janu yang mendengar itu langsung tersenyum sinis, “dia emang naksir sama saya pak.” &#xA;&#xA;“CIEE…”&#xA;&#xA;Gadis itu melotot tak terima, dengan cepat ia menyangkal pernyataan Janu. “ENGGA IH! JANU BRENGSEK GA USAH FITNAH LO YA!”&#xA;&#xA;Janu hanya menjulurkan lidahnya untuk mengejek gadis itu.&#xA;&#xA;Sang Guru hanya tertawa melihat tingkah muridnya itu, dengan segera ia langsung menyuruh semua muridnya untuk memulai latihan.&#xA;“Udah-udah, sok sekarang latihan aja dulu bareng pasangan kalian tadi ya.” &#xA;&#xA;“Iya pak…”&#xA;&#xA;Semua murid langsung memisahkan diri dan mencari tempat untuk mereka berlatih termasuk pasangan yang selalu bertengkar itu. Ayu dengan malas mengikuti Janu yang membawanya ke ujung lapangan yang teduh. &#xA;&#xA;“Lo diem disitu, biar gue disini,” ujar Janu. &#xA;&#xA;Gadis itu menatap Janu tak suka, &#34;enak aja! Tempat lo teduh, sedangkan tempat gue panas! Gue aja yang disitu,” gerutu Ayu sembari mendekati tempat Janu. &#xA;&#xA;“Idih apaan, gak! Gue gamau.” Janu melipat kedua tangannya sambil menatap Ayu yang berjalan mendekatinya. &#xA;&#xA;Ayu berdecak kesal, “yaudah kita maju-an aja lah biar sama-sama kepanasan.” Janu menggeleng tak setuju. “Lo! Anjing ya.” gadis itu berjalan kembali ke tempatnya semula dengan kesal, ia memilih untuk pasrah dan menuruti saja apa yang Janu mau.&#xA;&#xA;Keduanya mulai berlatih sesuai dengan yang diajarkan oleh Guru mereka. Awalnya mereka melakukannya dengan baik, sampai kejahilan Janu muncul. Ia dengan sengaja melempar bola ke sembarang arah, membuat Ayu mau tak mau harus mengejar bola itu. Janu terus membuang bola itu jauh dari jangkauan Ayu membuat gadis itu kembali marah. &#xA;&#xA;Gadis itu berlari mengambil bola basket, ia berbalik dan menatap Janu penuh dengan amarah. Ia berjalan dengan penuh tekanan pada setiap langkahnya, dengan kencang ia melempar bola basket itu tepat pada perut Janu, membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan. &#xA;&#xA;“Lo bisa ga sih jangan main-main!” &#xA;&#xA;Janu terkekeh sembari menatap gadis yang tengah berkacak pinggang. “Ga Bisa.”&#xA;&#xA;Dengan kesal Ayu mendekati Janu lalu memukul laki-laki itu dengan kencang dan bertubi-tubi. &#xA;&#xA;“Aduh! Aduh! Sakit bego!” kata Janu sembari berusaha melindungi diri dengan tangannya. Gadis itu menjauhkan dirinya dari Janu dan menatap laki-laki itu tajam. &#xA;&#xA;“Gue mau bilang pak Budi biar gue ganti pasangan aja ah!” &#xA;&#xA;Janu segera menahan lengan gadis itu yang tadinya akan pergi. “Jangan dong, yaudah deh gue minta maaf.” &#xA;&#xA;“Tapi lo jangan jauh-jauh lempar bolanya!” Janu mengangguk. “Awas kalo sampe lo lempar jauh lagi, gue beneran minta ganti pasangan.”&#xA;&#xA;“Iya bawel lo, kerdil.” &#xA;&#xA;“GUE GA KERDIL!” &#xA;&#xA;“Iya cil, bocil.” &#xA;&#xA;“JANU!!”&#xA;&#xA;“HEH KALIAN KALO BERANTEM TERUS KU BAPAK NIKAHIN NIH!”&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini kelas 11 Ipa 5 tengah melangsungkan pelajaran olahraga dengan materi tentang bola basket. Setiap orang dikelompokkan menjadi dua orang untuk latihan, dan sialnya Ayu dan Janu dipilih untuk menjadi satu tim.</p>

<p>“Ayu pasangan kamu sama Janu ya.”</p>

<p>Semua murid langsung bersorak karena orang yang selalu bertengkar itu bersatu.</p>

<p><em>“CIEE…ASIK NIH PASANGAN GELUT BERSATU.”</em></p>

<p><em>“Aduh aduh bakalan ada keributan nich bentar lagi.”</em></p>

<p><em>“IEU MAH KEDENG DEUI GE JADIAN LAH”</em></p>

<p>“Pak Budi! Aku gamau ah kalo sama Janu,” protes Ayu dengan wajah cemberut.</p>

<p>“Kenapa? takut naksir ya?” goda pak Budi.</p>

<p>Janu yang mendengar itu langsung tersenyum sinis, “dia emang naksir sama saya pak.”</p>

<p><em>“CIEE…”</em></p>

<p>Gadis itu melotot tak terima, dengan cepat ia menyangkal pernyataan Janu. “ENGGA IH! JANU BRENGSEK GA USAH FITNAH LO YA!”</p>

<p>Janu hanya menjulurkan lidahnya untuk mengejek gadis itu.</p>

<p>Sang Guru hanya tertawa melihat tingkah muridnya itu, dengan segera ia langsung menyuruh semua muridnya untuk memulai latihan.
“Udah-udah, sok sekarang latihan aja dulu bareng pasangan kalian tadi ya.”</p>

<p>“Iya pak…”</p>

<p>Semua murid langsung memisahkan diri dan mencari tempat untuk mereka berlatih termasuk pasangan yang selalu bertengkar itu. Ayu dengan malas mengikuti Janu yang membawanya ke ujung lapangan yang teduh.</p>

<p>“Lo diem disitu, biar gue disini,” ujar Janu.</p>

<p>Gadis itu menatap Janu tak suka, “enak aja! Tempat lo teduh, sedangkan tempat gue panas! Gue aja yang disitu,” gerutu Ayu sembari mendekati tempat Janu.</p>

<p>“Idih apaan, gak! Gue gamau.” Janu melipat kedua tangannya sambil menatap Ayu yang berjalan mendekatinya.</p>

<p>Ayu berdecak kesal, “yaudah kita maju-an aja lah biar sama-sama kepanasan.” Janu menggeleng tak setuju. “Lo! Anjing ya.” gadis itu berjalan kembali ke tempatnya semula dengan kesal, ia memilih untuk pasrah dan menuruti saja apa yang Janu mau.</p>

<p>Keduanya mulai berlatih sesuai dengan yang diajarkan oleh Guru mereka. Awalnya mereka melakukannya dengan baik, sampai kejahilan Janu muncul. Ia dengan sengaja melempar bola ke sembarang arah, membuat Ayu mau tak mau harus mengejar bola itu. Janu terus membuang bola itu jauh dari jangkauan Ayu membuat gadis itu kembali marah.</p>

<p>Gadis itu berlari mengambil bola basket, ia berbalik dan menatap Janu penuh dengan amarah. Ia berjalan dengan penuh tekanan pada setiap langkahnya, dengan kencang ia melempar bola basket itu tepat pada perut Janu, membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.</p>

<p>“Lo bisa ga sih jangan main-main!”</p>

<p>Janu terkekeh sembari menatap gadis yang tengah berkacak pinggang. “Ga Bisa.”</p>

<p>Dengan kesal Ayu mendekati Janu lalu memukul laki-laki itu dengan kencang dan bertubi-tubi.</p>

<p>“Aduh! Aduh! Sakit bego!” kata Janu sembari berusaha melindungi diri dengan tangannya. Gadis itu menjauhkan dirinya dari Janu dan menatap laki-laki itu tajam.</p>

<p>“Gue mau bilang pak Budi biar gue ganti pasangan aja ah!”</p>

<p>Janu segera menahan lengan gadis itu yang tadinya akan pergi. “Jangan dong, yaudah deh gue minta maaf.”</p>

<p>“Tapi lo jangan jauh-jauh lempar bolanya!” Janu mengangguk. “Awas kalo sampe lo lempar jauh lagi, gue beneran minta ganti pasangan.”</p>

<p>“Iya bawel lo, kerdil.”</p>

<p>“GUE GA KERDIL!”</p>

<p>“Iya cil, bocil.”</p>

<p>“JANU!!”</p>

<p>“HEH KALIAN KALO BERANTEM TERUS KU BAPAK NIKAHIN NIH!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bubblescript.writeas.com/102-qfrb</guid>
      <pubDate>Fri, 24 Feb 2023 10:31:27 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>102 </title>
      <link>https://bubblescript.writeas.com/102?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Hari ini kelas 11 Ipa 5 tengah melangsungkan pelajaran olahraga dengan materi tentang bola basket. Setiap orang dikelompokkan menjadi dua orang untuk latihan, dan sialnya Ayu dan Janu dipilih untuk menjadi satu tim. &#xA;&#xA;“Ayu pasangan kamu sama Janu ya.” &#xA;&#xA;Semua murid langsung bersorak karena orang yang selalu bertengkar itu bersatu. &#xA;&#xA;“CIEE…ASIK NIH PASANGAN GELUT BERSATU.”&#xA;&#xA;“Aduh aduh bakalan ada keributan nich bentar lagi.”&#xA;&#xA;“IEU MAH KEDENG DEUI GE JADIAN LAH” &#xA;&#xA;“Pak Budi! Aku gamau ah kalo sama Janu,” protes Ayu dengan wajah cemberut. &#xA;&#xA;“Kenapa? takut naksir ya?” goda pak Budi. &#xA;&#xA;Janu yang mendengar itu langsung tersenyum sinis, “dia emang naksir sama saya pak.” &#xA;&#xA;“CIEE…”&#xA;&#xA;Gadis itu melotot tak terima, dengan cepat ia menyangkal pernyataan Janu. “ENGGA IH! JANU BRENGSEK GA USAH FITNAH LO YA!”&#xA;&#xA;Janu hanya menjulurkan lidahnya untuk mengejek gadis itu.&#xA;&#xA;Sang Guru hanya tertawa melihat tingkah muridnya itu, dengan segera ia langsung menyuruh semua muridnya untuk memulai latihan.&#xA;“Udah-udah, sok sekarang latihan aja dulu bareng pasangan kalian tadi ya.” &#xA;&#xA;“Iya pak…”&#xA;&#xA;Semua murid langsung memisahkan diri dan mencari tempat untuk mereka berlatih termasuk pasangan yang selalu bertengkar itu. Ayu dengan malas mengikuti Janu yang membawanya ke ujung lapangan yang teduh. &#xA;&#xA;“Lo diem disitu, biar gue disini,” ujar Janu. &#xA;&#xA;Gadis itu menatap Janu tak suka, &#34;enak aja! Tempat lo teduh, sedangkan tempat gue panas! Gue aja yang disitu,” gerutu Ayu sembari mendekati tempat Janu. &#xA;&#xA;“Idih apaan, gak! Gue gamau.” Janu melipat kedua tangannya sambil menatap Ayu yang berjalan mendekatinya. &#xA;&#xA;Ayu berdecak kesal, “yaudah kita maju-an aja lah biar sama-sama kepanasan.” Janu menggeleng tak setuju. “Lo! Anjing ya.” gadis itu berjalan kembali ke tempatnya semula dengan kesal, ia memilih untuk pasrah dan menuruti saja apa yang Janu mau.&#xA;&#xA;Keduanya mulai berlatih sesuai dengan yang diajarkan oleh Guru mereka. Awalnya mereka melakukannya dengan baik, sampai kejahilan Janu muncul ia dengan sengaja melempar bola sembarang arah, membuat Ayu mau tak mau harus mengejar bola itu. Janu terus membuang bola itu jauh dari jangkauan Ayu membuat gadis itu kembali marah. &#xA;&#xA;Gadis itu berlari mengambil bola basket, ia berbalik dan menatap Janu penuh dengan amarah. Ia berjalan dengan penuh tekanan pada setiap langkahnya, dengan kencang ia melempar bola basket itu tepat pada perut Janu, membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan. &#xA;&#xA;“Lo bisa ga sih jangan main-main!” &#xA;&#xA;Janu terkekeh sembari menatap gadis yang tengah berkacak pinggang. “Ga Bisa.”&#xA;&#xA;Dengan kesal Ayu mendekati Janu lalu memukul laki-laki itu dengan kencang dan bertubi-tubi. &#xA;&#xA;“Aduh! Aduh! Sakit bego!” kata Janu sembari berusaha melindungi diri dengan tangannya. Gadis itu menjauhkan dirinya dari Janu dan menatap laki-laki itu tajam. &#xA;&#xA;“Gue mau bilang pak Budi biar gue ganti pasangan aja ah!” &#xA;&#xA;Janu segera menahan lengan gadis itu yang tadinya akan pergi. “Jangan dong, yaudah deh gue minta maaf.” &#xA;&#xA;“Tapi lo jangan jauh-jauh lempar bolanya!” Janu mengangguk. “Awas kalo sampe lo lempar jauh lagi, gue beneran minta ganti pasangan.”&#xA;&#xA;“Iya bawel lo, kerdil.” &#xA;&#xA;“GUE GA KERDIL!” &#xA;&#xA;“Iya cil, bocil.” &#xA;&#xA;“JANU!!”&#xA;&#xA;“HEH KALIAN KALO BERANTEM TERUS KU BAPAK NIKAHIN NIH!”&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini kelas 11 Ipa 5 tengah melangsungkan pelajaran olahraga dengan materi tentang bola basket. Setiap orang dikelompokkan menjadi dua orang untuk latihan, dan sialnya Ayu dan Janu dipilih untuk menjadi satu tim.</p>

<p>“Ayu pasangan kamu sama Janu ya.”</p>

<p>Semua murid langsung bersorak karena orang yang selalu bertengkar itu bersatu.</p>

<p><em>“CIEE…ASIK NIH PASANGAN GELUT BERSATU.”</em></p>

<p><em>“Aduh aduh bakalan ada keributan nich bentar lagi.”</em></p>

<p><em>“IEU MAH KEDENG DEUI GE JADIAN LAH”</em></p>

<p>“Pak Budi! Aku gamau ah kalo sama Janu,” protes Ayu dengan wajah cemberut.</p>

<p>“Kenapa? takut naksir ya?” goda pak Budi.</p>

<p>Janu yang mendengar itu langsung tersenyum sinis, “dia emang naksir sama saya pak.”</p>

<p><em>“CIEE…”</em></p>

<p>Gadis itu melotot tak terima, dengan cepat ia menyangkal pernyataan Janu. “ENGGA IH! JANU BRENGSEK GA USAH FITNAH LO YA!”</p>

<p>Janu hanya menjulurkan lidahnya untuk mengejek gadis itu.</p>

<p>Sang Guru hanya tertawa melihat tingkah muridnya itu, dengan segera ia langsung menyuruh semua muridnya untuk memulai latihan.
“Udah-udah, sok sekarang latihan aja dulu bareng pasangan kalian tadi ya.”</p>

<p>“Iya pak…”</p>

<p>Semua murid langsung memisahkan diri dan mencari tempat untuk mereka berlatih termasuk pasangan yang selalu bertengkar itu. Ayu dengan malas mengikuti Janu yang membawanya ke ujung lapangan yang teduh.</p>

<p>“Lo diem disitu, biar gue disini,” ujar Janu.</p>

<p>Gadis itu menatap Janu tak suka, “enak aja! Tempat lo teduh, sedangkan tempat gue panas! Gue aja yang disitu,” gerutu Ayu sembari mendekati tempat Janu.</p>

<p>“Idih apaan, gak! Gue gamau.” Janu melipat kedua tangannya sambil menatap Ayu yang berjalan mendekatinya.</p>

<p>Ayu berdecak kesal, “yaudah kita maju-an aja lah biar sama-sama kepanasan.” Janu menggeleng tak setuju. “Lo! Anjing ya.” gadis itu berjalan kembali ke tempatnya semula dengan kesal, ia memilih untuk pasrah dan menuruti saja apa yang Janu mau.</p>

<p>Keduanya mulai berlatih sesuai dengan yang diajarkan oleh Guru mereka. Awalnya mereka melakukannya dengan baik, sampai kejahilan Janu muncul ia dengan sengaja melempar bola sembarang arah, membuat Ayu mau tak mau harus mengejar bola itu. Janu terus membuang bola itu jauh dari jangkauan Ayu membuat gadis itu kembali marah.</p>

<p>Gadis itu berlari mengambil bola basket, ia berbalik dan menatap Janu penuh dengan amarah. Ia berjalan dengan penuh tekanan pada setiap langkahnya, dengan kencang ia melempar bola basket itu tepat pada perut Janu, membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.</p>

<p>“Lo bisa ga sih jangan main-main!”</p>

<p>Janu terkekeh sembari menatap gadis yang tengah berkacak pinggang. “Ga Bisa.”</p>

<p>Dengan kesal Ayu mendekati Janu lalu memukul laki-laki itu dengan kencang dan bertubi-tubi.</p>

<p>“Aduh! Aduh! Sakit bego!” kata Janu sembari berusaha melindungi diri dengan tangannya. Gadis itu menjauhkan dirinya dari Janu dan menatap laki-laki itu tajam.</p>

<p>“Gue mau bilang pak Budi biar gue ganti pasangan aja ah!”</p>

<p>Janu segera menahan lengan gadis itu yang tadinya akan pergi. “Jangan dong, yaudah deh gue minta maaf.”</p>

<p>“Tapi lo jangan jauh-jauh lempar bolanya!” Janu mengangguk. “Awas kalo sampe lo lempar jauh lagi, gue beneran minta ganti pasangan.”</p>

<p>“Iya bawel lo, kerdil.”</p>

<p>“GUE GA KERDIL!”</p>

<p>“Iya cil, bocil.”</p>

<p>“JANU!!”</p>

<p>“HEH KALIAN KALO BERANTEM TERUS KU BAPAK NIKAHIN NIH!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bubblescript.writeas.com/102</guid>
      <pubDate>Thu, 23 Feb 2023 13:39:24 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>RETAKAN </title>
      <link>https://bubblescript.writeas.com/retakan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Jika kalian berpikir Ayu akan diam saja melihat suaminya bercumbu dengan wanita lain. Salah, itu salah besar. Ia kini dengan amarah menggebu-gebu mendekati Janu yang sibuk beradu mulut dengan Reya. &#xA;&#xA;Dengan kencang ia menarik Janu agar menjauh dari gadis itu. &#xA;&#xA;&#34;Lu apa-apaan sih?!&#34; Pria itu menatap Ayu marah. &#xA;&#xA;Ayu menatap Janu tak percaya. Mengapa Janu marah? Bukankah dirinya yang harus marah karena ini?&#xA;&#xA;&#34;Lo yang apa-apaan. Ngapain lo ciuman sama dia? Di tambah di daerah rumah lo sendiri?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ya emang kenapa sih? Janu kan pacar aku,&#34; balas Reya sambil memeluk lengan Janu manja. &#xA;&#xA;&#34;Gue istrinya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Tau kok, Janu bilang sama aku tuh.&#34; &#xA;&#xA;Plak! &#xA;&#xA;Ayu menampar pipi Reya kencang, dadanya naik turun menandakan bahwa amarahnya sudah meluap. Ia menatap Reya dengan penuh kebencian. &#xA;&#xA;&#34;Diem lo jalang!&#34; &#xA;&#xA;Janu melepaskan pelukan Reya, dengan marah ia menarik lengan Ayu kasar. Bahkan pria itu mencengkram tangannya dengan erat. Ia bahkan tak mengindahkan teriakan Reya, Janu benar-benar marah. Ia menarik Ayu kembali ke rumah. &#xA;&#xA;Sepanjang perjalanan Ayu terus meronta-ronta agar Janu melepaskan cengkramannya. Namun hasilnya nihil, pria itu malah semakin mengencangkannya. Bahkan Ayu sudah bercucuran air mata pun, Janu tak peduli. &#xA;&#xA;Ketika sampai di rumah, Janu melempar Ayu dengan kencang. Sehingga gadis itu terbentur dengan meja makan. Dengan cepat Ayu memegang perutnya, beruntung karena punggungnya yang kena bukan perutnya. &#xA;&#xA;&#34;Lo apa-apaan sih nampar Reya kaya gitu hah?! Lo kenapa sih anjing akhir-akhir ini, ikut campur urusan gue mulu?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Emang salah gue ikut campur urusan lo? Gue istri lo.&#34; &#xA;&#xA;Janu menjambak rambutnya sendiri dengan kesal. &#xA;&#34;Istri? Istri lo bilang? Eh! Asal lo tau, kita nikah tuh Karena di jodohin! Lo gausah so kepedean dengan adanya status Istri, lo dengan enaknya campur urusan orang!&#34; geram Janu. &#34;Lagian lo tuh selama ini beban buat gue!&#34; &#xA;Ayu menatap Janu bengis. &#34;Beban? Beban lo bilang? Terus kenapa ga lo cerain aja gue?&#xA;Kenapa lo malah pertahanin semuanya!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Lo tau? Karena gue masih punya empati, gue kasian liat lo hidup sendirian karena keluarganya hancur berantakan.&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Jika kalian berpikir Ayu akan diam saja melihat suaminya bercumbu dengan wanita lain. Salah, itu salah besar. Ia kini dengan amarah menggebu-gebu mendekati Janu yang sibuk beradu mulut dengan Reya.</p>

<p>Dengan kencang ia menarik Janu agar menjauh dari gadis itu.</p>

<p>“Lu apa-apaan sih?!” Pria itu menatap Ayu marah.</p>

<p>Ayu menatap Janu tak percaya. Mengapa Janu marah? Bukankah dirinya yang harus marah karena ini?</p>

<p>“Lo yang apa-apaan. Ngapain lo ciuman sama dia? Di tambah di daerah rumah lo sendiri?”</p>

<p>“Ya emang kenapa sih? Janu kan pacar aku,” balas Reya sambil memeluk lengan Janu manja.</p>

<p>“Gue istrinya.”</p>

<p>“Tau kok, Janu bilang sama aku tuh.”</p>

<p><em>Plak!</em></p>

<p>Ayu menampar pipi Reya kencang, dadanya naik turun menandakan bahwa amarahnya sudah meluap. Ia menatap Reya dengan penuh kebencian.</p>

<p>“Diem lo jalang!”</p>

<p>Janu melepaskan pelukan Reya, dengan marah ia menarik lengan Ayu kasar. Bahkan pria itu mencengkram tangannya dengan erat. Ia bahkan tak mengindahkan teriakan Reya, Janu benar-benar marah. Ia menarik Ayu kembali ke rumah.</p>

<p>Sepanjang perjalanan Ayu terus meronta-ronta agar Janu melepaskan cengkramannya. Namun hasilnya nihil, pria itu malah semakin mengencangkannya. Bahkan Ayu sudah bercucuran air mata pun, Janu tak peduli.</p>

<p>Ketika sampai di rumah, Janu melempar Ayu dengan kencang. Sehingga gadis itu terbentur dengan meja makan. Dengan cepat Ayu memegang perutnya, beruntung karena punggungnya yang kena bukan perutnya.</p>

<p>“Lo apa-apaan sih nampar Reya kaya gitu hah?! Lo kenapa sih anjing akhir-akhir ini, ikut campur urusan gue mulu?”</p>

<p>“Emang salah gue ikut campur urusan lo? Gue istri lo.”</p>

<p>Janu menjambak rambutnya sendiri dengan kesal.
“Istri? Istri lo bilang? Eh! Asal lo tau, kita nikah tuh Karena di jodohin! Lo gausah so kepedean dengan adanya status Istri, lo dengan enaknya campur urusan orang!” geram Janu. “Lagian lo tuh selama ini beban buat gue!”
Ayu menatap Janu bengis. “Beban? Beban lo bilang? Terus kenapa ga lo cerain aja gue?
Kenapa lo malah pertahanin semuanya!”</p>

<p>“Lo tau? Karena gue masih punya empati, gue kasian liat lo hidup sendirian karena keluarganya hancur berantakan.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://bubblescript.writeas.com/retakan</guid>
      <pubDate>Sat, 22 Oct 2022 16:19:25 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>