102
Hari ini kelas 11 Ipa 5 tengah melangsungkan pelajaran olahraga dengan materi tentang bola basket. Setiap orang dikelompokkan menjadi dua orang untuk latihan, dan sialnya Ayu dan Janu dipilih untuk menjadi satu tim.
“Ayu pasangan kamu sama Janu ya.”
Semua murid langsung bersorak karena orang yang selalu bertengkar itu bersatu.
“CIEE…ASIK NIH PASANGAN GELUT BERSATU.”
“Aduh aduh bakalan ada keributan nich bentar lagi.”
“IEU MAH KEDENG DEUI GE JADIAN LAH”
“Pak Budi! Aku gamau ah kalo sama Janu,” protes Ayu dengan wajah cemberut.
“Kenapa? takut naksir ya?” goda pak Budi.
Janu yang mendengar itu langsung tersenyum sinis, “dia emang naksir sama saya pak.”
“CIEE…”
Gadis itu melotot tak terima, dengan cepat ia menyangkal pernyataan Janu. “ENGGA IH! JANU BRENGSEK GA USAH FITNAH LO YA!”
Janu hanya menjulurkan lidahnya untuk mengejek gadis itu.
Sang Guru hanya tertawa melihat tingkah muridnya itu, dengan segera ia langsung menyuruh semua muridnya untuk memulai latihan. “Udah-udah, sok sekarang latihan aja dulu bareng pasangan kalian tadi ya.”
“Iya pak…”
Semua murid langsung memisahkan diri dan mencari tempat untuk mereka berlatih termasuk pasangan yang selalu bertengkar itu. Ayu dengan malas mengikuti Janu yang membawanya ke ujung lapangan yang teduh.
“Lo diem disitu, biar gue disini,” ujar Janu.
Gadis itu menatap Janu tak suka, “enak aja! Tempat lo teduh, sedangkan tempat gue panas! Gue aja yang disitu,” gerutu Ayu sembari mendekati tempat Janu.
“Idih apaan, gak! Gue gamau.” Janu melipat kedua tangannya sambil menatap Ayu yang berjalan mendekatinya.
Ayu berdecak kesal, “yaudah kita maju-an aja lah biar sama-sama kepanasan.” Janu menggeleng tak setuju. “Lo! Anjing ya.” gadis itu berjalan kembali ke tempatnya semula dengan kesal, ia memilih untuk pasrah dan menuruti saja apa yang Janu mau.
Keduanya mulai berlatih sesuai dengan yang diajarkan oleh Guru mereka. Awalnya mereka melakukannya dengan baik, sampai kejahilan Janu muncul ia dengan sengaja melempar bola sembarang arah, membuat Ayu mau tak mau harus mengejar bola itu. Janu terus membuang bola itu jauh dari jangkauan Ayu membuat gadis itu kembali marah.
Gadis itu berlari mengambil bola basket, ia berbalik dan menatap Janu penuh dengan amarah. Ia berjalan dengan penuh tekanan pada setiap langkahnya, dengan kencang ia melempar bola basket itu tepat pada perut Janu, membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.
“Lo bisa ga sih jangan main-main!”
Janu terkekeh sembari menatap gadis yang tengah berkacak pinggang. “Ga Bisa.”
Dengan kesal Ayu mendekati Janu lalu memukul laki-laki itu dengan kencang dan bertubi-tubi.
“Aduh! Aduh! Sakit bego!” kata Janu sembari berusaha melindungi diri dengan tangannya. Gadis itu menjauhkan dirinya dari Janu dan menatap laki-laki itu tajam.
“Gue mau bilang pak Budi biar gue ganti pasangan aja ah!”
Janu segera menahan lengan gadis itu yang tadinya akan pergi. “Jangan dong, yaudah deh gue minta maaf.”
“Tapi lo jangan jauh-jauh lempar bolanya!” Janu mengangguk. “Awas kalo sampe lo lempar jauh lagi, gue beneran minta ganti pasangan.”
“Iya bawel lo, kerdil.”
“GUE GA KERDIL!”
“Iya cil, bocil.”
“JANU!!”
“HEH KALIAN KALO BERANTEM TERUS KU BAPAK NIKAHIN NIH!”